Info Teknologi ยป Pengendalian Hama Kutu Kebul (Bemisia tabaci Gennadius) dengan Penggunaan Tanaman Jagung sebagai Tanaman Penghalang

bemisia2

Salah satu gangguan dalam meningkatkan produksi kedelai adalah serangan hama kutu kebul Bemisia tabaci Gennadius. Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul ini dapat mencapai 80%, bahkan pada serangan berat dapat menyebabkan puso (gagal panen). Sebagian besar pengendalian hama kutu kebul pada tanaman kedelai di tingkat petani sampai saat ini masih mengandalkan insektisida, namun demikian masih sering kali gagal dalam pelaksanaannya. Pengendalian hama kutu kebul dapat dilakukan dengan berlandaskan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Prinsip operasional yang digunakan dalam pelaksanaan PHT salah satunya adalah budi daya tanaman sehat. Tanaman yang sehat mempunyai ketahanan ekologi yang tinggi terhadap gangguan hama. Pengendalian kultur teknis merupakan tindakan preventif, dilakukan sebelum serangan hama terjadi dengan sasaran agar populasi tidak meningkat sampai melebihi ambang kendalinya. Salah satu tindakan kultur teknis adalah dengan menggunakan tanaman jagung sebagai penghalang (barier) pada tanaman kedelai untuk mengendalikan hama kutu kebul. Untuk mengembangkan teknik pengendalian hama ini diperlukan pengetahuan sifat-sifat ekosistem setempat khususnya tentang ekologi dan perilaku hama seperti tentang bagaimana hama memperoleh berbagai persyaratan bagi kehidupannya termasuk makanan, perkawinan, dan tempat persembunyian untuk menghindarkan serangan cuaca buruk dan berbagai musuh alami. Dari pengetahuan biologi dan ekologi hama, kita dapat mengerti tentang titik lemah hama sehingga dapat diketahui fase hidup hama yang paling tepat untuk dilakukan pengendalian. Teknik pengendalian hama secara budi daya dapat dikelompokkan menjadi empat sesuai dengan sasaran yang akan dicapai yaitu: 1) mengurangi kesesuaian ekosistem, 2) mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan hidup hama, 3) mengalihkan populasi hama menjauhi tanaman, dan 4) mengurangi dampak kerusakan tanaman.

Tanaman kedelai yang terserang kutu kebul dan tanaman sehat Penanaman tanaman penghalang atau penolak bertujuan untuk menghambat penerbangan/migrasi hama. Penanaman jagung pada areal pertanaman kedelai dimaksudkan untuk menghalangi atau mengganggu migrasi hama kutu kebul. Penelitian Moreau (2010) menunjukkan kombinasi tanaman perangkap dengan yellow sticky traps mampu menurunkan populasi kutu kebul pada pertanaman cabai hingga 53%. Tanaman penghalang (barier) dengan tanaman jagung yang rapat dapat membantu mengurangi migrasi kutu kebul. Populasi kutu kebul pada tanaman kedelai yang tidak diberi tanaman penghalang rata-rata 50% lebih besar dibanding tanaman yang diberi penghalang sejak 35 hari setelah tanam (HST) (Tabel 1). Pada 63 HST, populasi kutu kebul pada petak dengan tanaman penghalang hanya sepertiga dari populasi kutu kebul pada petak tanpa penghalang. Tanaman jagung selain bermanfaat sebagai penghalang fisik masuknya kutu kebul ke pertanaman kedelai juga dapat berfungsi sebagai inang bagi serangga predator bagi kutu kebul seperti kumbang Coccinellidae (Menochilus sexmaculatus Fab.). Dengan adanya tanaman jagung di sekeliling tanaman kedelai diharapkan dapat melestarikan dan meningkatkan musuh alami yang telah ada dengan memanipulasi lingkungan sehingga menguntungkan kemampuan bertahan hidupnya. Penanaman jagung lebih awal yaitu 3 minggu sebelum tanaman kedelai dapat mencegah masuknya kutu kebul dari luar ke petak pertanaman kedelai.Penanaman tanaman jagung 2-3 baris di sekeliling petak dengan jarak tanam rapat 50 x 15 cm yang ditanam 2-3 minggu sebelum tanam kedelai, merupakan tindakan kultur teknis yang melindungan tanaman kedelai dari serangan kutu kebul. Untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengendalian secara bercocok tanam perlu dipadukan dengan teknik-teknik pengendalian hama lainnya sesuai dengan prinsip-prinsip PHT.

Penanaman jagung di sekeliling tanaman kedelai mencegah serangan hama kutu kebul

Mwt-AI / EY