Info Teknologi » Pengendalian Hama Thrips Kacang Hijau dengan Insektisida Nabati dan Kimia

Thrips, Megalurothrips usitatus (Bagnall) merupakan salah satu hama penting kacang hijau pada musim kemarau. Berdasarkan hasil penelitian, kehilangan hasil kacang hijau akibat serangan thrips berkisar antara 12-64 %, tergantung varietas, umur tanaman dan musim. Serangan thrips pada awal pertumbuhan vegetatif dicirikan dengan gejala keriting pada daun pucuk, sehingga tanaman menjadi kerdil. Gejala serangan pada fase berbunga mengakibatkan dengan rontoknya bunga, polong tidak terbentuk, sehingga mengurangi hasil kacang hijau. Selain kacang hijau, spesies thrips ini juga menyerang tanaman kedelai, kacang adzuki (Vigna angularis), kacang hijau, kacang tanah, kacang pedang (Canavalia gladiata), kacang asparagus (V. sesquipedalis), kacang panjang (V. sinensis), kacang yam (Pachyrhizus erosus), kacang lima (Phaseolus limensis), kacang buncis (Phaseolus vulgaris), Sesbania susban, Cassia bicapsularis, Bauhinia purpurea, Crotalaria juncea, Phaseolus atropurpureus, Centrosema pubescens.

Strategi pengendalian thrips Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) merupakan suatu konsep pengelolaan ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (Untung, 2006). Adanya pembelajaran mengenai struktur ekosistem yang meliputi komposisi jenis tanaman, hama, musuh alami, dan kelompok biotik yang lain serta interaksi dinamik antar komponen biotik maka dapat ditetapkan strategi pengelolaan yang mampu mempertahankan populasi hama pada tingkat yang tidak merugikan. Agar petani dapat memperoleh keuntungan yang maksimal, maka petani harus meningkatkan produksi dan menekan biaya pengendalian dengan cara melakukan pengendalian hama apabila populasi musuh alami lebih rendah atau kurang berperan maksimal bila dibanding populasi hama. Adanya sedikit populasi hama pada ekosistem pertanian merupakan sumber makanan/mangsa bagi musuh alami sehingga keberadaan musuh alami dapat menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan membudidayakan tanaman yang sehat akan dapat diperoleh produksi yang tinggi dan tanaman mempunyai ketahanan yang tinggi sehingga dapat bertahan terhadap serangan hama maupun penyakit. Di samping itu tanaman sehat juga diarahkan untuk menciptakan ekosistem pertanaman yang menguntungkan bagi perkem­bangan musuh alami. Kompleks musuh alami tersebut akan memperta­hanan populasi hama pada aras yang rendah sehingga tidak merugi­kan tanaman. Pengamatan mingguan merupakan kegiatan pengamatan dalam mengumpulkan informasi tentang komponen ekosistem dan fluktua­sinya. Dari informasi tersebut pengamat dapat menganalisis sendiri dan menentukan tindakan pengelolaan yang harus dilakukannya. Agar petani mau dan mampu menerapkan PHT, diperlukan usaha pemasyarakatan PHT melalui jalur pendidikan, penerangan, dan pelatihan baik yang dilakukan secara formal dan non formal. Supaya PHT dapat diterapkan dengan baik, selain informasi mengenai agroekosistem setempat juga perlu dilandasi oleh pengetahuan mengenai komponen-komponen PHT yang dapat dipadukan untuk mendapatkan hasil pengendalian yang optimal. Komponen PHT yang dimaksud meliputi : pengendalian secara kultur teknis termasuk penggunaan varietas tahan, sanitasi lingkungan, dan pengaturan waktu tanam; pengendalian mekanis; pengendalian secara biologi dengan memanfaatkan musuh alami berupa predator, parasit, patogen; dan pengendalian dengan pestisida secara nabati/kimia. Namun dalam makalah ini yang akan dibahas adalah pengendalian dengan insektisida nabati dan kimia.

1. Pengendalian dengan insektisida nabati Penggunaan bahan nabati serbuk biji mimba (SBM), biji mahoni, biji bengkuang dan umbi gadung untuk pengendalian hama thrips kurang memberikan hasil yang maksimal, karena tingkat penekanan intensitas serangannya rendah (hampir setara dengan kontrol) dan perolehan bobot biji kering hanya berkisar 0,4-0,6 t/ha, sedang pada kontrol perolehan bobot biji kering lebih rendah yaitu 0,3 t/ha. Selanjutnya dilaporkan bahwa serbuk biji mimba (SBM), ekstrak bawang putih, rimpang jahe, daun pepaya, dan rendaman campuran cabe, bawang dan jahe (CBJ) mempunyai keefektifan yang setara dan lebih rendah dalam menekan populasi dan intensitas serangan thrips bila dibanding insektisida kimia. Bila dihitung tingkat efikasi insektisida (EI) insektisida nabati tertinggi hanya mencapai 65%, 5% lebih rendah dari kriteria nilai EI yang dianggap efektif (70%), sedang EI untuk insektisida kimiawi mencapai 100%. Dari sisi perolehan hasil, tanaman yang tidak dikendalikan (kontrol), memberikan bobot biji kering terrendah, 0,72 t/ha; tanaman yang dikendalikan dengan insektisida nabati menghasilkan 0,879–1,038 t/ha; sedang tanaman yang dikendalikan secara kimiawi menghasilkan 1,981 t/ha. Adanya tindakan pengendalian mengakibatkan peningkatan hasil kacang hijau antara 0,159–1,261 t/ha atau 22-175 % bila dibandingkan dengan tanpa pengendalian, sebaliknya kacang hijau akan mengalami kehilangan hasil 63% bila tanpa dilakukan upaya pengendalian hama thrips.

2. Pengendalian dengan insektisida kimia

Pengendalian kimia merupakan cara pengendalian yang sering dilakukan karena mudah diterapkan dan hasilnya cepat terlihat, namun apabila penggunaannya kurang bijaksana akan mencemari lingkungan. Penggunaan insektisida untuk pengendalian hama sebaiknya digunakan bila cara pengendalian yang lain sudah tidak efektif untuk menekan populasi hama. Oleh karena itu aplikasinya harus didasarkan pada nilai ambang kendali hama yang akan dikendalikan. Ambang kendali untuk hama thrips adalah > 5 ekor thrips dewasa per daun trifoliet pucuk pada tanaman berumur 7-14 hari. Insektisida yang digunakan sebaiknya yang bersifat selektif, artinya insektisida tersebut efektif terhadap hama sasaran, dan aman terhadap musuh alami hama. Hasil penelitian tahun 2000 di KP. Muneng, menunjukkan bahwa jenis bahan aktif insektisida berpengaruh terhadap penekanan intensitas serangan thrips. Aplikasi insektisida dengan bahan aktif fipronil, imidakloprid 70 %, formetanate hydrocloride 25 % dengan konsentrasi 1-2 ml/l sekali seminggu efektif menekan intensitas serangan hama thrips sampai 2 %, dan tidak berbeda nyata di antara ketiganya. Sedangkan aplikasi insektisida dengan bahan aktif diafentiuron 500 g/l hanya mampu menekan intensitas serangan thrips sampai 32 % setara dengan rendaman serbuk biji mimba 20 g/l. Pada petak yang tidak dikendalikan intensitas serangan thrips lebih parah mencapai 100 %. Aplikasi insektisida berbahan aktif fipronil, imidakloprid 70 %, formetanate hydrocloride 25 % seminggu sekali dengan konsentrasi 1-2 ml/l diperoleh hasil kacang hijau berturut-turut 0,86, 0,82, dan 0,81 t/ha berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pengendalian yang hanya menghasilkan 0,31 t/ha biji kering. Hasil penelitian selanjutnya dilaporkan bahwa aplikasi insektisida berbahan aktif fipronil dan imidakloprid masih memberikan hasil yang konsisten (Indiati, 2012). Ke dua insektisida tersebut efektif menekan serangan thrips dan menghasilkan bobot biji kering 1,8-1,98 t/ha serta memberikan tambahan hasil antara 150-175 % bila dibanding kontrol.

3. Pengendalian dengan kombinasi insektisida nabati dan kimia Efektifitas bahan nabati untuk pengendalian thrips relatif rendah, untuk meningkatkan efe
ktivitasnya, aplikasi bahan nabati sebaiknya dikombinasikan dengan insektisida kimia yang tepat waktu, sehingga frekuensi penggunaan insektisida kimia dapat dikurangi dan efektivitas pengendalian dapat ditingkatkan. Kombinasi insektisida thiacloprid dan azadirakhtin 0.15% efektif mengendalikan thrips pada tanaman buncis (Nderitu et al. 2008). Dhandapani et al. (2003) merekomendasikan untuk tanaman yang panennya tidak serentak, pengendalian hama menjelang panen sebaiknya dilakukan dengan insektisida nabati yang ramah lingkungan agar tidak berbahaya terhadap kesehatan. Nderitu et al. (2010) yang menyatakan bahwa Thiacloprid efektif dalam mengendalikan Megalurothrips sjostedti dibandingkan dengan pestisida botani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi aplikasi fipronil 2 ml/l pada 7 hari setelah tanam (HST) kemudian dilanjutkan dengan aplikasi (rimpang jahe 20 g/l+minyak mimba 5 ml/l+pupuk cair 1 g/l) sebanyak empat kali aplikasi pada 14, 21, 28 dan 35 HST efektif mengendalikan thrips serta menghasilkan bobot biji kering 1,296 t/ha dan tidak berbeda dengan perlakuan Imidaklorprit 200 SL 1 ml/l dan 2 ml/l. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kombinasi kimia dan nabati memberi harapan terhadap penekanan serangan thrips, namun demikian waktu dan frekuensi aplikasi insektisida kimia dan nabati yang tepat perlu di teliti lanjut agar diperoleh data/hasil yang akurat. Dari penelitian tahun 2012 ini diperoleh hasil bahwa kombinasi penyemprotan fipronil 2 ml/l sekali pada 10 HST dengan rendaman rimpang jahe 20 g/l pada 17, 24 dan 31 HST efektif mengendalikan hama thrips dengan intensitas serangan 6,8 %. Efektifitas pengendalian hama thrips tersebut dapat ditinggkatkan menjadi 3,6 % bila rendaman rimpang jahe 20 g/l disemprotkan pada 24 dan 31 HST dipadukan dengan fipronil 2 ml/l sebanyak dua kali pada 10 dan 17 HST. Kedua perlakuan tersebut efektif menekan intensitas serangan thrips dengan nilai EI masing-masing 78,1 dan 88,4 %. Kombinasi fipronil 2 ml/l dengan rendaman rimpang jahe 20 g/l efektif mengendalikan hama thrips pada kacang hijau dan menghemat penggunaan insektisida 50-75% (Indiati, 2013).

Disarikan dari Buletin Palawija No. 27