Info Teknologi » Pengendalian Hama Ulat Grayak yang Ramah Lingkungan

Serangan ulat grayak (Spodoptera litura Fabricius) dapat merusak pertanaman, menurunkan produksi tanaman, bahkan gagal panen. Pengendalian ramah lingkungan merupakan salah satu cara yang sesuai dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu memadukan pendekatan-pendekatan yang mengandalkan peran agroekosistem. Beberapa cara pengendalian ulat grayak yang ramah lingkungan dan telah diketahui keefektifannya adalah sebagai berikut.


Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (SlNPV)

Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV) merupakan virus serangga, anggota genus Baculovirus. Mekanisme kerja virus NPV adalah virus akan masuk ke dalam tubuh inang melalui mulut saat aktifitas makan, kemudian menginfeksi trakea, sel lipid, epidermis, dan sel darah. Selanjutnya terjadi lisis sel yang mengakibatkan aktifitas makan dan pergerakan serangga menurun dan menyebabkan kematian, dengan bentuk tubuh berbentuk huruf V terbalik (Gambar 1).

Gambar 1. Larva ulat grayak yang terinfeksi SlNPV (Sumber: Afidah et al. 2021)

Gambar 1. Larva ulat grayak yang terinfeksi SlNPV (Sumber: Afidah et al. 2021)

Biopestisida NPV dapat diproduksi sendiri secara sederhana di lapang. Cara perbanyakan secara massal, yaitu mengumpulkan larva instar III dan IV dari lahan pertanaman kedelai, kemudian dimasukan dalam toples untuk pembiakan. Larva diberi pakan berupa daun kedelai yang telah dicelupkan dalam larutan SlNPV, dan dibiarkan sampai mati.

Bangkai larva dapat langsung digunakan untuk pengendalian S. litura di lapang, dengan cara dihancurkan, disaring, dilarutkan dalam air, dan disemprotkan ke tanaman kedelai. Aplikasi SlNPV sebaiknya dilakukan pada sore hari dan menggunakan penyemprot. Dosis pengendalian SlNPV di lapang adalah 1500 ekor bangkai larva SlNPV dengan volume semprot 300 L untuk pengendalian pada luasan lahan 1 ha.


Cendawan Entomopatogen

Cendawan entomopatogen yang potensial dalam pengendalian ulat grayak diantaranya adalah Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Nomuraea rileyi, dan Lecanicillium lecanii. Mekanisme cendawan entomopatogen menginfeksi S. Litura adalah melalui infeksi pada telur dan larva.

Cendawan entomopatogen mengeluarkan enzim (protease, kitinase, quitobiase, upase, dan lipoxygenase) untuk mendegradasi kutikula serangga, dan secara mekanis penetrasi dibantu dengan apresorium.

Mekanisme parasit telur terjadi ketika miselium entomopatogen mengeksploitasi sumber nutrisi yang ada pada lapisan telur serangga untuk mendukung pertumbuhannya. Pada kondisi tersebut, telur sudah tidak normal atau embrio mati (Gambar 2).

Gambar 2. a). Parasit Metarhizium sp. pada telur ulat grayak, b). N.rileyi memparasit larva Spodoptera sp. (Sumber: Trizelia et al. 2011; Naganna et al. 2020)

Gambar 2. (a) Parasit Metarhizium sp. pada telur ulat grayak, (b) N.rileyi memparasit larva Spodoptera sp. (Sumber: Trizelia et al. 2011; Naganna et al. 2020)

Aplikasi B. bassiana 8 g/100 ml (kerapatan konidia 3,6 × 108 konidia/g) efektif membunuh larva S.litura 100% pada 10 hsi. Cendawan entomopatogen membutuhkan tingkat kelembaban yang tinggi (95-100%) dan suhu 20-30°C untuk bersporulasi dan penetrasi.

Bangkai larva (tubuh kaku, seluruh permukaan tubuh tertutup miselium berwarna putih, dan konidia berwarna hijau gelap) disterilisasi dalam kloroks 1,25% selama satu menit, kemudian dibilas dengan aquades. Konidia N. rileyi diambil dengan jarum ose dan dibiakkan pada media potato dextrose agar (PDA) dan diinkubasi pada suhu 23-25°C selama kurang lebih empat belas hari.

Biakan ini dapat langsung digunakan, atau dapat juga diperbanyak pada media beras dan jagung pecah untuk penggunaan berikutnya. Aplikasi dilakukan pada sore hari (di atas jam 4 sore) dengan konsentrasi konidia minumal 107/ml.


Parasitoid dan Predator

Parasitoid merupakan salah satu dari beberapa pengendali hayati yang telah digunakan dalam pengendalian hama yang ramah lingkungan, sedangkan predator adalah serangga yang hidup bebas dengan memakan atau memangsa serangga lainnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agens pengendali hayati.

Beberapa kelompok parasitoid diantaranya adalah Telenomus remus Nixon (Hymenoptera:Scelionidae), Tetrastichus sp., Trichogramma japonicum, Peribaea orbata Wiedemann (Diptera: Tachinidae), Eriborus argenteopilosus Cameron (Hymenoptera: Ichneumonidae) dan Microplitis manilae (Hymenoptera: Braconidae), sedangkan yang termasuk dalam kelompok predator adalah Forticula sp., Pheropsophus occipitalis, Paederus fuscipes, Coccinella arcuata, Pardosa pseudoannulata, Oxyopes sp., P. sumatrana, Verania lineata, Broscus sp, dan Chelisoches sp (Gambar 3).

Gambar 3. a) Trichogramma sp (parasitoid), b). Telenomus sp (parasitoid), c). Forticula sp (predator) (Sumber: Naganna et al. 2020)

Gambar 3. (a) Trichogramma sp (parasitoid), (b) Telenomus sp (parasitoid), (c) Forticula sp (predator) (Sumber: Naganna et al. 2020)

Aplikasi predator dan parasitoid di lapang dapat dilakukan di awal tanam sebagai tindakan preventif. Adapun beberapa strategi yang dapat digunakan dalam perbanyakan predator dan parasitoid antara lain konservasi, introduksi, dan augmentasi.


Nematoda Entomopatogen

Nematoda entomopatogen (NEP) yang diketahui efektif untuk pengendalian hama adalah Steinernema (Steinernematidae) dan Heterorhabditis (Heterorhabditidae). Larva yang terinfeksi NEP mengalami kerusakan pada saluran pencernaan.

Juvenil infektif (JI) melakukan penetrasi secara aktif melalui trakea ke dalam tubuh serangga (haemocoel), dan melepaskan bakteri simbion yang mengeluarkan toksin yang dapat membunuh inang dengan sangat cepat. Daya bunuh genus Steinernema terhadap larva S. litura > 90%.

Aplikasi Steinernema 800 JI/2 ml air dan 1000 JI/2 ml air menghasilkan mortalitas larva instar III 87% dan 95% pada enam hari setelah aplikasi (hsa). NEP dapat diisolasi dari tanah dan dibiakan secara massal. Tanah diambil pada kedalaman 10-15 cm, dan dimasukkan kedalam plastik.

Sampel tanah dipindahkan dalam botol plastik yang sebelumnya telah diisi dengan larva ulat hongkong (Tenebrio molitor). Larva yang terinfeksi akan mati dan mengalami perubahan warna. Larva yang terinfeksi NEP dibilas dengan air steril dan diinkubasi pada perangkap.

Perangkap ditempatkan pada suhu kamar dan kondisi gelap. Inkubasi dapat berlangsung 10-20 hari. JI dicuci dengan air keran secara berulang sebanyak tiga kali. Selanjutnya JI disimpan dalam 25-30 ml air keran. JI yang terkumpul selanjutnya dapat diinokulasikan kembali pada larva untuk menaikan populasinya. Aplikasi nematoda di lapang dapat dilakukan dengan mencampurkan NEP dengan surfaktan atau gel, sehingga lebih efisien per satuan luas.


Pestisida Nabati

Pestisida nabati memiliki peran penting dalam pengendalian ulat grayak, yakni dengan mempengaruhi aktivitas makan, gangguan pada sistem reproduksi, dan bersifat mengusir hama. Selain itu, aktifitas senyawa metabolit sekunder dapat mengganggu sistem reproduksi serangga, mempengaruhi sistem saraf otot, keseimbangan hormon, reproduksi, penolak, penarik, dan anti makan.

Cara pembuatan pestisida nabati relatif sederhana. Pestisida nabati dari daun segar, seperti daun sirsak, dapat dibuat dengan cara menghaluskan daun, kemudian dilarutkan dalam air dan didiamkan beberapa jam. Selanjutnya, larutan ditambahkan perekat dan langsung diaplikasi.

Cara pembuatan pestisida dari daun Mimba, yakni daun dicuci dengan air mengalir, dikeringanginkan dan ditimbang sesuai kebutuhan. Dalam 1 kg daun dibutuhkan pelarut (air) sebanyak 1 liter (1:1). Daun dihaluskan dengan cara ditumbuk, dan ditambahkan air.

Campuran bahan disaring untuk mendapatkan ekstrak. Hasil saringan dapat diencerkan, dan ditambahkan sedikit larutan air sabun sebagai perekat, selanjutnya disimpan kurang lebih 24 jam sebelum siap digunakan. Aplikasi sebaiknya dilakukan pada sore hari, sehingga tidak mudah terdegradasi dan efektif bertahan di tanaman.

Pestisida nabati juga dapat dihasilkan dari bagian tanaman seperti biji, seperti pada ekstrak biji mimba. Ekstrak biji mimba dikeringanginkan, kemudian digiling, diayak dan dilarutkan dalam pelarut (25-50 g dalam 1 liter air dan ditambahkan 1 ml alkohol 70%), selanjutnya direndam selama 12 jam. Hasil rendaman disaring dan ditambahkan 0,5 ml perata atau 1 gr deterjen, dan siap disemprotkan.


Tanaman Perangkap

Prinsip penggunaan tanaman perangkap yakni dengan strategi tolak tarik (push-pull strategy). Tanaman perangkap merupakan tanaman yang ditanam untuk memikat dan menjauhkan hama dari tanaman utama atau tanaman komersial. Hama dicegah untuk menjauhi tanaman utama dan terkonsentrasi pada tanaman perangkap.

Pola penanaman tanaman perangkap berlajur satu atau dua baris di antara petakan tanaman budidaya, contoh 2 baris tanaman perangkap di antara delapan baris tanaman utama. Pada tanaman perangkap yang berumur lebih panjang dari tanaman budidaya, maka sebaiknya penanaman tanaman perangkap dilakukan lebih awal dari tanaman budidaya, sedangkan pada tanaman yang berumur sama dengan tanaman budidaya, maka ditanam bersamaan, untuk mencegah keterlambatan panen.

Beberapa jenis tanaman perangkap yang dapat digunakan untuk pengendalian S. litura adalah jarak kepyar (Ricinus communis), talas (Colocasia esculenta), kacang tanah (Arachis hypogaea), ubi jalar (Ipomoea batatas), serta kedelai genotipe MLG 3023. Tanaman perangkap sebaiknya memiliki umur panen lebih panjang dibandingkan tanaman utama.


Varietas Tahan

Penggunaan varietas tahan dapat menekan tingkat kerusakan tanaman, mengurangi atau menghilangkan aplikasi pestisida, tidak merusak lingkungan, dan menekan kehilangan hasil. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah identifikasi plasma nutfah berdasarkan karakter morfologi dan fisiologi, yaitu sifat antixenosis dan antibiosis tanaman terhadap serangga hama.

Pertahanan antixenosis dapat berupa duri, trikoma, sedangkan pertahanan antibiosis dapat berupa racun atau enzim pencernaan, bahkan pada beberapa tanaman dapat menghasilkan senyawa kimia yang dapat menarik predator atau parasit hama. Balitkabi sejak 2016 hingga 2020 telah mengeluarkan beberapa varietas kedelai dengan sifat tahan dan agak tahan terhadap hama ulat grayak, di antaranya Dering 3, Dena 2, Dering 2, Demas 3, Derap 1, dan Deja 1.

Tautan publikasi: https://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bulpa/article/view/11420

Emerensiana Uge