Info Teknologi » Pengendalian Penyakit Hawar Bakteri pada Tanaman Ubi Kayu

Penyakit hawar bakteri ubi kayu (cassava bacterial blight=CBB) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv. Manihotis merupakan penyakit bakteri terpenting pada ubi kayu. Penyakit ini tersebar di negara-negara produsen ubi kayu seperti Amerika Selatan, Afrika dan Asia. Di Indonesia, keberadaan dan identifikasi penyakit ini secara lengkap telah dilakukan oleh Tominaga et al. (1978), meskipun sebelumnya telah dilaporkan oleh Reitsma dan van Hoof (1948 cit. Semangun 1991). Hingga saat ini, di Indonesia, penyakit hawar bakteri telah diketahui terdapat di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan Selatan (Tominaga et al. 1948, Saleh et al. 2011), meskipun kemungkinan juga sudah terdapat di daerah lainnya. Serangan hawar bakteri umumnya terjadi pada daun dan batang. Gejala awal berupa lesio berwarna abu-abu mirip bekas tersiram air panas. Lesio dibatasi oleh tulang-tulang daun sehingga terbentuk lesio menyudut, terlihat lebih jelas pada sisi bawah daun (Gambar). Terdapat empat tingkatan gejala hawar CBB yaitu 1) lesio dengan bentuk menyudut, 2) lesio meluas menjadi bercak nekrotik (kematian jaringan pada lokasi infeksi), 3) perlendiran massa bakteri yang terjadi pada tangkai, helai daun, serta batang, dan 4) mati pucuk. Kerusakan akibat infeksi hawar bakteri dapat diamati pada jaringan muda dan dinding bagian luar dari pembuluh kayu. Infeksi bakteri hawar yang menyebabkan penyakit mati pucuk, mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas bahan tanam (stek). Akar jarang terinfeksi oleh bakteri X. campestris pv. manihotis, meskipun pada varietas yang rentan terjadi pembusukan pada jaringan pengangkutan (Lozano 1986).


Gambar. Gejala penyakit hawar bakteri (Cassava bacterial blight=CBB), (a) bercak daun menyudut, (b) bercak membesar saling bersatu,
(c) serangan yang lebih berat daun menguning dan akhirnya rontok Hingga saat ini, data kerugian hasil ubi kayu akibat infeksi bakteri hawar di Indonesia belum terdokumentasi dengan baik, namun di luar negeri dilaporkan telah banyak menimbulkan kerugian. Di Afrika, kehilangan hasil diperkirakan lebih dari 7,5 juta ton umbi setiap tahun akibat infeksi CBB dan epidemi CBB. Di Nigeria dan Uganda telah menghancurkan pertanaman ubi kayu dan menyebabkan kehilangan hasil 75% dan 90−100% (Ohunyon dan Ogio-Okarika 1979, Otim-nape 1980). Di Brazil, kehilangan hasil ubi kayu akibat CBB pada perkebunan besar mencapai 50%. Sementara, negara Amerika Latin lainnya bervariasi antara 5−40% (Lozano 1986).

Teknologi pengendalian CBB yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menanam varietas ubi kayu yang tahan atau toleran.

Cara ini merupakan cara pengendalian yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit hawar bakteri karena umumnya kompatibel dengan cara pengendalian yang lain, serta mudah diterima dan diterapkan oleh petani. Di Indonesia, klon-klon Adira II-OP-8c, Adira II-OP-21, Adira II-OP-30, Adira II-OP-31, W1435-OP-89, CM 1006-4, CM 1392-1 dan I-53 tahan terhadap infeksi bakteri tersebut (Nunung et al. 1985a). Hasil pengujian lapang di Lampung menunjukkan bahwa varietas Adira 4, Malang 4, Malang 6, dan Faroka bersifat agak tahan. Klon CMM 03069-6, CMM 03008-11, CMM 03005-12 dan CMM 03021-1 selain agak tahan juga potensi hasilnya tinggi (Saleh et al. 2011, 2013).

2. Menanam bibit tanam yang sehat, bebas infeksi bakteri CBB.

Cara ini sekaligus dimaksudkan untuk mencegah penyebaran penyakit dari satu daerah ke daerah lainnya, dan dari musim tanam ke musim tanam berikutnya. Pada saat ini telah dikembangkan metode serologi yang cukup sederhana, cepat namun akurat (spesifik) untuk mendeteksi adanya bakteri X. campestris pv. manihotis di dalam biji ubi kayu antara lain PCR, nested PCR dan Dot-blot hybridization.

3. Sanitasi lahan.

Sanitasi lahan dengan cara mencabut dan membakar tanaman yang sakit (roguing), memendam sisa tanaman, dan membiarkan tanah bero minimal selama tiga tahun dapat menghambat atau mencegah penyebaran penyakit di lapangan. Juga disarankan untuk membajak lebih dalam, dan membebaskan lahan tersebut dari gulma selama enam bulan.

4. Pengelolaan tanaman dengan cara pemangkasan, pengaturan waktu tanam, tumpang sari, rotasi tanaman, pengendalian gulma, pemupukan yang berimbang untuk memperbaiki nutrisi, dan pengendalian menggunakan agens biologi Pseudomonas fluorescens dan P. putida dapat menekan perkembangan penyakit CBB.

NS