Info Teknologi » Peningkatan Efisiensi Penggunaan Lahan dengan Tumpang Sisip Jagung + Kedelai

Tumpang sisip Jagung + kedelai umur 12 hari pada lahan kering di Tuban, 2019

Tumpang sisip Jagung + kedelai umur 12 hari pada lahan kering di Tuban, 2019

Curah hujan pada lahan kering iklim kering (LKIK) umumnya sangat rendah, yakni kurang dari 2.000 mm/tahun dengan durasi yang pendek (3-5 bulan). Kondisi tersebut mengakibatkan masa tanam di LKIK juga sangat pendek, sehingga air yang tersedia harus dapat dimanfaatkan secara optimal agar produktivitas lahan dapat maksimal. Di Indonesia, LKIK sebagian besar tersebar di lima provinsi, yakni di NTT (2,9 juta ha), Jawa Timur (2,2 juta ha), NTB (1,5 juta ha), Sulawesi Selatan (1,2 juta ha), dan Gorontalo (1,0 juta ha).

Di lahan kering, jagung merupakan komoditas yang banyak diusahakan oleh petani sebagai sumber bahan pangan pokok dan sumber pendapatan keluarga. Namun karena bulan basahnya hanya berkisar antara 3-5 bulan/tahun, setelah tanam jagung lahan banyak yang dibiarkan kosong, karena air sering tidak cukup untuk bertanam komoditas berikutnya. Salah satu solusi agar di lahan kering dapat ditanami dua kali setahun sehingga produktifitasnya meningkat adalah dengan menerapkan pola tanam tumpang sisip.

Pola tanam tumpang sisip merupakan salah satu jenis pola tanam polikultur. Polikultur dapat didefinisikan sebagai metode dalam pola tanam lebih dari satu jenis tanaman pada sebidang lahan pertanian yang sama dalam jangka waktu tertentu. Termasuk dalam polikultur seperti tumpang sari (Intercropping),  tumpang gilir (Multiple Cropping), tanam bersisipan (Relay Cropping), serta tanam campuran (Mixed Cropping).

Pada lahan kering berbasis tanaman jagung, pola tumpang sisip dilakukan dengan cara mengatur waktu tanam sebelum tanaman jagung pertama dipanen. Disebut tumpang sisip karena menggunakan dua tanaman sekaligus secara tumpangsari dengan waktu tanam bersisipan dengan tanaman pertama yang masih berada di lahan. Di bawah ini disajikan hasil penelitian tumpang sisip di lahan jagung yang menggunakan tumpangsari jagung + kedelai.

Sebelum tanaman jagung pertama dipanen, tanaman kedua sudah mulai ditanam sehingga tidak ada jeda waktu kosong tanaman di lahan (Gambar 1-A). Hal ini penting karena berkaitan dengan pemanfaatan air yang bergantung pada curah hujan. Keberhasilan upaya peningkatan produktifitas lahan kering melalui tanam sisip, bergantung pada kesesuaian antara jenis tanaman yang dipilih dengan ketersediaan curah hujan atau lengas tanah yang ada. Pada pertanaman ke dua, sebaiknya dipilih varietas tanaman yang umurnya relatif pendek dan toleran kekeringan.

Penerapan pola tanam tumpang sisip pada lahan jagung di lahan kering daerah Tuban dengan memadukan tanaman jagung dan kedelai yang ditanam bersamaan (tumpangsari), ternyata lebih produktif dan mampu memberikan keuntungan lebih besar dibanding pola tanam sisip dengan jagung secara monokultur (Tabel 1). Penerapan pola tanam sisip ini, juga dapat meningkatkan kesuburan tanah karena bahan organik dari guguran daun dan bintil akar kedelai yang teringgal di dalam tanah, mengurangi risiko gagal panen, dan lebih efisien dalam penggunaan sumber daya lahan.

Keragaan tumpang sisip (jagung + kedelai) umur 12 hari dan jagung menjelang panen

Keragaan tumpang sisip (jagung + kedelai) umur 12 hari dan jagung menjelang panen

saat tumpang sisip jagung + kedelai umur 42 hari

saat tumpang sisip jagung + kedelai umur 42 hari

tumpang sisip jagung + kedelai menjelang panen

tumpang sisip jagung + kedelai menjelang panen di Tuban

Budi daya tumpang sisip ( jagung + kedelai) di lahan jagung

  1. Tanah tidak diolah, pada 25-30 hari sebelum jagung pertama dipanen, gulma di bawah tanaman jagung disemprot herbisida kontak, daun-daun jagung di bawah tongkol dibersihkan, dan tanah dibersihkan dari sisa-sisa gulma yang mati dan seresah tanaman lainnya.
  2. Jagung dan kedelai ditanam secara tumpangsari diantara barisan tanaman jagung pertama secara bersamaan waktunya yang dilakukan pada saat jagung pertama menunggu keringnya tongkol atau pada 20-25 hari sebelum jagung dipanen. Curah hujan selama pertumbuhan tanaman kedua akan lebih baik bila masih berkisar antara 350-450 mm.
  3. Jagung kedua ditanam secara baris ganda dengan jarak tanam (40 x 20) cm x 200 cm, 1 tanaman/lubang, sehingga populasi tanamannya sama dengan jagung monokultur dengan jarak tanam 80 x 20 cm satu tanaman/lubang atau 80 x 40 cm dua tanaman/lubang.
  4. Kedelai ditanam diantara baris ganda jagung dengan jarak tanam 30 cm x 15 cm, 2 tanaman/lubang (antar baris ganda jagung berisi 5 baris kedelai), atau populasi tanaman kedelai mencapai sekitar 62% dari populasi kedelai monokultur dengan jarak tanam 40 x 15 cm dua tanaman/lubang.
  5. Pupuk kandang kering sebanyak 1,0 t/ha untuk tanaman jagung, dan kedelai 0,6 t/ha diberikan untuk menutup lubang tanam sekaligus berperan sebagai pupuk organik.
  6. Pupuk NPK untuk jagung dosis : 300 kg Urea + 150 kg SP-36 + 50 kg KCl/ha, dan untuk kedelai sesuai populasi tanaman sebanyak 62% populasi setara dengan dosis pupuk 30 kg Urea + 60 kg SP-36 + 30 kg KCl/ha.
  7. Pengendalian gulma dilakukan pada saat tanaman kedelai dan jagung berumur sekitar 20 hari menggunakan herbisida yang berefek minimal pada tanaman atau secara manual jika tenaga kerja tersedia.
  8. Pengendalian hama dan penyakit tanaman menggunakan pestisida yang sesuai dan tersedia di daerah setempat.
  9. Panen kedelai dan jagung dilakukan pada saat masak polong dan tongkol telah masak fisiologi, untuk kedelai saat polong telah berisi penuh, daun telah banyak yang gugur dan 95% kulit polong berwarna coklat kehitaman, dan untuk jagung panen dilakukan setelah biji berisi penuh dan tongkol mengering.

Hasil Biji dan Analisis Finansial

Hasil penelitian cara tanam tumpang sisip di lahan jagung daerah Semanding, Tuban dengan jagung pertama yang ditanam petani (Desember 2018 – Maret 2019) menghasilkan biji jagung 4,5-5,5 t/ha tergantung pada varietas jagung serta cara budi daya yang diterapkan petani. Hasil jagung kedua (Varietas NK 212) yang ditanam secara tumpang sisip dengan pola tanam monokultur menghasilkan biji jagung 5,5 t/ha, apabila dengan pola tumpangsari jagung +kedelai menghasilkan biji jagung 4,8-6,2 t/ha dan kedelai 0,8-1,4 t/ha (Tabel 1).

Dari perhitungan ekonomi tumpangsari jagung+kedelai varietas Dena 1, memberikan keuntungan lebih tinggi dibanding jika menggunakan kedelai var. Argomulyo atau Dega1. Dengan tumpang sisip, keuntungan bertanam dengan pola tumpangsari jagung + kedelai dapat mencapai Rp. 16 – 19 juta/ha, dan lebih tinggi dibandingkan dengan jagung monokultur yang hanya menghasilkan keuntungan Rp. 13,9 juta/ha (Tabel 1). Apabila diperhitungkan dengan produksi jagung pertama, penerapan tumpang sisip kedelai+jagung akan dapat meningkatkan produktivitas lahan dan keuntungan lebih dari 100%.

Tabel 1. Analisis usahatani tanam sisip dengan cara tanam monokultur dan tumpangsari kedelai dan jagung di lahan kering iklim kering. Semanding, Kab.Tuban, MT 2019
Pola Tanam Hasil (kg/ha) Penerimaan
(Rp 000/ha)
Biaya Produksi
(Rp 000/ha)
Keuntungan
(Rp 000/ha)
Jagung Kedelai
Monokultur Jagung 5.488 21.952 8.032 13.920
Monokultur Kedelai Argomulyo 2.430 15.795 7.022 8.733
Monokultur Kedelai Dena 1 1.873 12.174 6.802 5.372
Monokultur Kedelai Dega 1 1.417 9.210 6.622 2.588
Tumpangsari Jagung + Argomulyo 4.876 1.447 28.909 12.512 16.397
Tumpangsari Jagung + Dena 1 6.297 1.017 31.798 12.652 19.146
Tumpangsari Jagung + Dega 1 5.635 820 27.870 12.227 15.643
Keterangan: Harga jual jagung = Rp 4.000/kg biji kering, kedelai = Rp 6.500/kg biji kering.

Arief Harsono