Info Teknologi ยป Penyakit Virus Tanaman Ubijalar dan Upaya Pengendaliannya

Di Indonesia, tanaman ubijalar (Ipomoea batatas) merupakan sumber karbohidrat yang penting sebagai bahan pangan, pakan maupun bahan baku berbagai industri pangan/non-pangan. Namun demikian karena bukan merupakan komoditas utama, penelitian dan pengembangan komoditas tersebut masih terbatas. Pada tahun 2011, rata-rata nasional hasil ubijalar adalah 12,2 t/ha, masih di bawah potensi hasil beberapa varietas unggul yang mencapai 30-35 t/ha. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas ubijalar adalah adanya infeksi virus.
Hingga kini di Indonesia, paling tidak terdapat enam jenis virus yang menginfeksi tanaman ubijalar yaitu: Sweet potato feathery mottle virus (SPFMV), sweet potato mild mottle virus (SPMMV), Sweet potato latent virus (SPLV), Sweet potato chlorotic fleck virus (SPCFV), Sweet potato virus-6 (SPV-6) dan Sweet potato virus-8 (SPV-8). Diduga Sweet potato virus disease (SPVD) yang merupakan infeksi ganda SPFMV+SPCSV juga telah ada di Indonesia.
Di lapang, dengan tersedianya sumber inokulum virus yang beragam serta adanya serangga vektor virus yaitu kutu daun Aphid dan kutu kebul Bemisia tabaci, besar kemungkinan satu tanaman terinfeksi oleh lebih dari satu jenis virus yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sweet potato virus Disease (SPVD) merupakan gabungan infeksi SPFMV yang ditularkan oleh aphid dan SPCSV yang ditularkan oleh B. tabaci (Gibson et al. 2002; Gutierrez et al. 2003). Clark dan Hoy (2006) melaporkan adanya kasus infeksi ganda (dua jenis virus) SPFMV+ SPVG, atau bahkan tiga jenis virus yang berbeda, SPFMV+SPVG+IPMV. Lebih lanjut dilaporkan bahwa berdasarkan hasil survei dan uji serologi ELISA pada membrane Nitrocellulose (NMC-ELISA) dari sejumlah besar sampel tanaman yang dikumpulkan dari berbagai pusat produksi ubijalar diketahui bahwa SPVD (infeksi ganda SPFMV+SPCSV) merupakan penyakit virus yang dominan di Uganda, Kenya, Afrika Selatan ( Gibson et al. 2002; Tairo and Kullaya 2004; Domola et al. 2008; Opiyo et al. 2010).
Adanya infeksi ganda atau lebih, selain menghasilkan ekspresi gejala yang berlainan dibandingkan dengan apabila tanaman terinfeksi secara tunggal oleh masing-masing virus, umumnya juga mengakibatkan kerugian hasil yang lebih besar karena adanya sinergisme virus-virus tersebut (Milgram et al. 1996; Gutierrez et al. 2003; Clark dan Hoy 2006).

Pengendalian penyakit virus

1. Menanam varietas ubijalar yang tahan/toleran Menanam varietas ubijalar yang tahan infeksi virus merupakan cara paling efektif untuk mengendalikan penyakit virus, karena selain murah, mudah diadopsi petani juga kompatibel dengan cara pengendalian lain. Mwoloto et al. (2007) melaporkan bahwa ubijalar varietas Jonathan, Zapallo dan Japonenese bereaksi tahan terhadap infeksi SPVD. Untuk menentukan ketahanan varietas tersebut perlu dilakukan penelitian yang seksama, karena menurut Bua et al. (2006) landrace yang menunjukkan kejadian penyakit (disease incidence) rendah pada daerah dengan serangan penyakit rendah, ternyata menunjukkan kejadian penyakit yang paling tinggi dibandingkan landrace yang berasal dari daerah yang mempunyai kejadian penyakit tinggi. Disarankan agar varietas dari daerah dengan kejadian penyakit yang rendah tersebut dievaluasi di hot spot penyakit untuk memastikan tingkat ketahanan dan produksinya. Selain varietas tahan, menanam varietas yang bersifat toleran terhadap infeksi virus juga dianjurkan. Dje and Diallo (2005) melaporkan bahwa klon Guangshu-2 toleran terhadap infeksi SPFMV, sehingga meskipun terinfeksi dan konsentrasi virus dalam tanaman tinggi, namun tidak berpengaruh terhadap hasil umbi. 2. Menanam bibit yang sehat Menanam bibit yang sehat merupakan cara strategis untuk mengendalikan penyakit. Dari bibit yang sehat diharapkan akan tumbuh tanaman yang sehat, vigor dan mampu berproduksi secara optimal. Lepoivre (1998) melaporkan bahwa di China, penggunaan kultur jaringan meristem dapat menghasilkan tanaman yang bebas infeksi virus, dan dapat meningkatkan hasil ubi secara nyata 15-100%, tergantung varietas dan lokasi percobaan. Fuglie et al. (1999) juga melaporkan bahwa di China, pertanaman ubijalar yang bibitnya bebas virus, memberikan hasil 30% lebih tinggi dibandingkan yang bibitnya diperoleh dari lapang. 3. Memilih lokasi dan musim tanam. Menanam ubijalar pada lokasi yang relatif terisolir dari sumber-sumber virus ubijalar merupakan cara yang dianjurkan. Menanam ubijalar pada musim kemarau I (MKI) relatif aman dari infeksi virus karena pada saat tersebut populasi serangga vektor masih rendah. Kombinasi isolasi jarak dan tanaman penghalang juga dilaporkan membantu pengendalikan SPVD (Gibson 2005). 4. Rotasi tanam Secara umum virus ubijalar mempunyai kisaran tanaman inang yang relatif sempit, yaitu terbatas pada anggota famili Convolvulaceae. Oleh karena itu rotasi tanaman ubijalar dengan tanaman serealia diharapkan dapat memutus siklus hidup virus ubijalar. 5. Sanitasi lahan. Menurut Gibson et al. (2004), tindakan sanitasi dengan mencabut tanaman yang terinfeksi pada umur satu bulan setelah tanam, dan isolasi jarak sejauh 15 m dari pertanaman yang terinfeksi dapat mengurangi penyebaran penyakit SPVD. Kombinasi menanam varietas tahan dan sanitasi merupakan cara yang cukup efektif menekan SPVD di Great lake, Uganda. Di Lousiana, Amerika tanaman Ipomoea trichocarpa yang tumbuh di sekitar pertanaman ubijalar dibuktikan merupakan sumber inokulum SPFMV (Clark et al. 1986), sehingga perlu dipertimbangkan dalam usaha pengendalian penyakit. 6. Penyemprotan insektisida Di lapangan penyebaran virus dilakukan oleh serangga vektornya, sehingga mengendalikan vektor virus merupakan salah satu alternatif pengendalian penyakit virus. Namun sebagian besar virus yang menyerang ubijalar ditularkan oleh berbagai jenis kutu daun (aphid) atau B. tabaci secara non-persistent. Kelompok virus ini akan sangat mudah dihisap dari tanaman sakit dan ditularkan ke tanaman sehat oleh serangga penularnya (vektor) dalam waktu yang singkat (beberapa menit). Oleh karena itu pengendalian penyakit virus dengan cara mengendalikan vektornya dengan insektisida seringkali tidak memberi hasil yang optimal. David et al. (2012) melaporkan bahwa penyemprotan insektisida imidacloprid, pyriproxyfen, acetamiprid dan pymetrozine tidak secara nyata mengurangi populasi kutu kebul maupun intensitas serangan Sweet potato leaf curl virus (SPLCV).

Disarikan dari Buletin Palawija No. 27