Info Teknologi » Perakitan Varietas Kedelai Tahan Kutu Kebul (Bemisia tabaci Genn)

bemisia bemisia2
 Seleksi tanaman perakitan varietas kedelai tahan kutu kebul Di IP2TP Jambegede dan IP2TP Muneng, 2019

Budi daya kedelai di Indonesia umumnya dilakukan pada musim kemarau. Serangan hama kutu kebul (Bemisia tabaci Genn) sering dijumpai pada pertanaman kedelai di musim kemarau. Kehilangan hasil panen kedelai akibat serangan kutu kebul dapat mencapai 80% bahkan pada serangan berat berakibat puso (gagal panen). Pengendalian hama kutu kebul di tingkat petani masih mengandalkan insektisida, meskipun demikian seringkali gagal.

Salah satu teknik pengendalian kutu kebul adalah dengan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), yang menggunakan pendekatan cara pengendalian hama dan penyakit secara sinergis terpadu dari berbagai komponen dengan pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi. Komponen Pengendalian Hama Kutu Kebul dalam konsep PHT diantaranya adalah pengelolaan ekosistem untuk membuat lingkungan tanaman sehat dengan menanam varietas yang tahan terhadap hama kutu kebul. Namun hingga saat ini, belum tersedia varietas unggul kedelai tahan terhadap kutu kebul.

Program perakitan varietas kedelai tahan kutu kebul di Indonesia belum banyak dilakukan. Hingga tahun 2019, varietas unggul kedelai yang telah dirilis pemerintah mencapai 95 varietas, namun demikian baru varietas Tengger yang dideskripsikan sebagai varietas kedelai agak tahan kutu kebul (Balitkabi 2012).

Sumber gen ketahanan kedelai terhadap hama kutu kebul

Keberhasilan program perakitan varietas kedelai tahan kutu kebul sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber gen ketahanan dari suatu hama target. Gen-gen ketahanan ini dapat diperoleh dari plasma nutfah, varietas unggul yang sudah ada, maupun galur-galur generasi lanjut.

Salah satu genotipe kedelai yang dapat digunakan sebagai sumber gen ketahanan terhadap hama kutu kebul adalah IAC 100 (Pinheiro et al. 2005; Suharsono 2006). Pada tahun 2013, Sulistyo dan Nugrahaeni mendapatkan beberapa keturunan dari persilangan dengan IAC 100 memiliki sifat ketahanan terhadap serangan kutu kebul. Galur-galur tersebut yaitu IAC 100/ Burangrang-54, IAC 100/Kaba-5, IAC 100/Kaba-6, IAC 100/Kaba-8, IAC 100/Kaba-17, Malabar/IAC 100-85, Kaba/IAC 100//Burangrang-60, dan G100H/9305//IAC-100-195.

Informasi mengenai galur-galur kedelai yang terindikasi memiliki ketahanan terhadap kutu kebul, membuka peluang bagi keberhasilan program pemuliaan kedelai tahan kutu kebul.

Status perakitan varietas kedelai tahan hama kutu kebul di Balitkabi

Perakitan varietas kedelai toleran kutu kebul di Balitkabi telah diinisiasi sejak tahun 2016 dengan menyilangkan genotipe kedelai toleran kutu kebul dengan varietas kedelai berdaya hasil tinggi. Kegiatan seleksi terhadap individu-individu kedelai yang toleran kutu kebul dilakukan sejak generasi F2 hingga generasi lanjut F7, dan diperoleh 20 (F7) yang toleran terhadap hama kutu kebul.

Untuk memperoleh galur-galur harapan kedelai, maka pada tahun 2017 dilakukan uji daya hasil lanjutan (udhl) di dua lokasi dan diperoleh galur harapan (GH) sebanyak 12 GH toleran kutu kebul. Kegiatan dilanjutkan pada tahun 2018 untuk memperbaiki potensi hasil dan ukuran biji, maka dilakukan persilangan antara genotipe kedelai toleran kutu kebul dengan varietas kedelai berbiji besar dan diperoleh sebanyak 900 galur kedelai generasi F2. Selanjutnya pada tahun 2019 telah diperoleh sebanyak 600 galur F3 yang memiliki toleransi terhadap hama kutu kebul dari hasil seleksi sebanyak 900 galur F2.

bemisia3

Gambar 1. Status perakitan varietas tahan kutu kebul di Balitkabi

Seleksi pemilihan galur didasarkan pada persentase tingkat kerusakan daun oleh serangan hama kutu kebul dengan kriteria : (1). kategori tahan (<25%), (2). agak tahan (25 – 49%), (3). kurang tahan (50 -74%), dan (4) tidak tahan (>75%).

Dari penelitian tahun 2019, terpilih sebanyak 600 individu galur F3 berdasarkan kriteria intensitas kerusakan daun kurang dari (<) 25% akibat serangan hama kutu kebul, dan memiliki bobot 100 biji > 14,00 g. Kemudian diperoleh 28 galur (F3) yang teridentifikasi memiliki tingkat kerusakan daun kurang dari (<) 5%, memiliki potensi hasil (jumlah polong isi, jumlah biji, hasil biji/tanaman), serta memiliki bobot 100 biji lebih tinggi dari varietas pembanding : IAC-100, Gema dan Anjasmoro (Tabel 1).

Selanjutnya dipilih kandidat galur harapan yang memiliki tingkat kerusakan daun oleh serangan hama kutu kebul lebih kecil atau sama dengan varietas pembanding selain itu juga memiliki hasil biji dan bobot 100 biji lebih tinggi dibandingkan dengan varietas pembanding tahan kutu kebul. Varietas pembanding (IAC 100, Gema dan Anjasmoro) memiliki intensitas kerusakan daun 0,94-1,03%, bobot biji per tanaman 13,1-19,8 g, serta ukuran biji 9,2-13,9 g/100 biji (Tabel 2).

Dengan varietas pembanding tersebut terpilih lima Galur harapan (GH) tahan hama kutu kebul tersebut yakni : (1) Burangrang/Tengger, (2) G100H/Anjasmoro, (3) G100H/Detap-1, (4) IAC-100/Tengger, dan (5) Grobogan/Anjasmoro dengan kriteria intensitas kerusakan daun < 1,02%, bobot biji per tanaman 22-28 g, serta ukuran biji 14,6-15,4 g/100 biji.

Tabel 1. Galur-galur terpilih dari 600 galur populasi F3 kedelai tahan kutu kebul berdasarkan intesitas kerusakan daun terhadap kutu kebul, umur masak, jumlah polong isi, jumlah biji, hasil biji dan ukuran biji, MK II 2019 di IP2TP Muneng-Probolinggo.

Nomor Persilangan Intensitas kerusakan daun

(%)

Umur masak

(hari)

Jumlah

Polong Isi

Jumlah

biji/tanaman

(g)

Hasil/tan

(g)

Bobot 100 Biji

(g)

1 Detap-1/Dega-1 3,09 80 37 105 14,82 14,05
2 Detap-1/Grobogan 2,14 80 35 101 13,97 14,01
3 Grobogan/Detap-1 2,05 80 34 99 13,77 14,21
4 Burangrang/G-100-H 3,10 80 46 129 18,52 14,13
5 Burangrang/Gema 4,13 79 43 125 17,39 14,19
6 Gema/Burangrang 3,14 77 47 129 18,85 14,07
7 Burangrang/Tengger 0,87 78 55 155 22,34 14,25
8 Anjasmoro/IAC100 1,12 78 47 132 19,02 14,2
9 Anjasmoro/G100H 2,12 77 49 141 19,62 14,05
10 G100H/Anjasmoro 0,56 78 61 167 25,68 14,77
11 Anjasmoro/Tengger 2,11 78 49 143 19,58 14,02
12 Anjasmoro/Grobogan 3,13 79 47 135 18,78 14,02
13 G100H/Dena-1 3,12 77 45 126 17,97 14,01
14 G100H/Detap-1 0,80 80 64 181 28,03 15,37
15 G100H/Mutiara 2,12 80 49 139 19,68 14,09
16 IAC-100/Detap-1 3,13 80 49 142 19,84 14,21
17 IAC-100/Tengger 0,81 80 58 167 24,20 14,64
18 IAC-100/Mutiara 3,09 80 44 127 17,79 14,19
19 IAC-100/Burangrang 2,12 80 45 121 18,06 14,08
20 Dega-1/Dena-1 2,09 80 31 98 12,43 14,07
21 Dena-1/Gema 4,13 80 48 134 19,33 14,13
22 Dena-1/G100H 4,09 80 44 122 17,86 14,24
23 Grobogan/Detap-1 3,08 80 38 107 15,17 14,01
24 Grobogan/Anjasmoro 1,02 77 54 152 22,72 14,76
25 Grobogan/G100H 2,05 79 41 112 16,38 14,02
26 Grobogan/Gema 2,03 80 40 116 15,99 14,03
27 Grobogan/Dena-1 3,03 80 48 134 19,17 14,01
28 Grobogan/Tengger 2,14 80 44 129 17,59 14,03
Pembanding:
IAC-100 0,96 75 50 140 13,14 9,22
Gema 0,94 72 54 151 16,76 10,89
Anjasmoro 1,03 80 50 142 19,88 13,95

Sumber : Suyamto dan Sulistyo 2019

Tabel 2. Galur-galur kandidat terpilih dari 28 galur F3 kedelai tahan kutu kebul berdasarkan intesitas kerusakan daun terhadap kutu kebul, umur masak, jumlah polong isi, jumlah biji, hasil biji dan ukuran biji, MK II 2019 di IP2TP Muneng-Probolinggo.

Nomor Persilangan Intensitas kerusakan daun

(%)

Umur masak

(hari)

Jumlah

Polong Isi

Jumlah

biji/tanaman

(g)

Hasil/tan

(g)

Bobot 100 Biji

(g)

 1  Burangrang/Tengger  0,87 78  55 155  22,34  14,25
2 G100H/Anjasmoro 0,56 78 61 167 25,68 14,77
3 G100H/Detap-1 0,80 80 64 181 28,03 15,37
4 IAC-100/Tengger 0,81 80 58 167 24,20 14,64
5 Grobogan/Anjasmoro 1,02 77 54 152 22,72 14,76
Pembanding:
IAC-100 0,96 75 50 140 13,14 9,22
Gema 0,94 72 54 151 16,76 10,89
Anjasmoro 1,03 80 50 142 19,88 13,95

Sumber : Suyamto dan Sulistyo 2019

 

Suyamto