Info Teknologi » Pewarisan Karakteristik Polong dan Biji Kacang Tanah

Industri pangan berbahan baku kacang tanah di Indonesia berkembang pesat, terbukti dengan tersedianya beragam produk di pasar, diantaranya kacang garing aneka rasa, kacang salut baik kacang atom, kacang telor, dan kacang madu. Kacang garing berbiji tiga (Biga), akhir-akhir ini menjadi produk yang populer. Kacang biga yang dikehendaki adalah bentuk biji bulat, ukuran biji sedang, serta retikulasi polong agak jelas. Sementara varietas unggul biga yang ada semuanya berbentuk biji pipih dengan ukuran biji kecil hingga sedang, retikulasi polong jelas. Selain sebagai pendukung agroindustri, kacang biga juga merupakan salah satu cara meningkatkan potensi hasil. Dengan jumlah polong dan ukuran biji yang sama, kacang biga akan memberikan hasil polong lebih tinggi dibandingkan kacang biji dua. Korelasi positif antara jumlah polong per tanaman dengan hasil polong kacang tanah telah banyak dilaporkan, namun beberapa peneliti melaporkan korelasi negatif antara jumlah polong dan ukuran biji. Varietas unggul kacang tanah di Indonesia secara umum dikelompokkan menjadi tipe Spanish dan tipe Valencia. Kedua tipe tersebut dibedakan berdasarkan pada jumlah biji per polong. Tipe Spanish berbiji dua, tipe Valencia berbiji tiga. Untuk mendapatkan kacang biga dengan bentuk biji bulat dan berukuran biji sedang hingga besar, telah disilangkan varietas Gajah (ukuran biji sedang yaitu 53g/100biji, bentuk biji bulat, jumlah biji per polong 2, sedikit berparuh, sedikit berpinggang, retikulasi agak jelas) dan Panter (ukuran biji kecil yaitu 35-40g/100biji, bentuk biji pipih/flat end, jumlah biji per polong 3, agak berparuh, tidak berpinggang, retikulasi jelas). Gajah merupakan varietas kacang tanah dengan bentuk dan ukuran biji ideal, sedangkan Panter adalah varietas unggul biji tiga dengan potensi hasil tinggi (Gambar 1). Dari persilangan keduanya diharapkan diperoleh zuriat berbiji tiga, bentuk biji bulat, retikulasi polong agak jelas. Pengetahuan tentang pola pewarisan karakter yang dituju merupakan petunjuk metode seleksi yang efektif.


Gambar. Varietas kacang tanah Gajah (a) dan Panter (b) yang digunakan sebagai tetua persilangan. Berdasarkan analisis segregasi pada tujuh genotipe yaitu P1, P2, F1, F1r, F2, BC1.1 dan BC1.2 hasil persilangan antara varietas Gajah (P1) dan Panter (P2) diperoleh hasil bahwa karakter polong sedikit berparuh dikendalikan secara monogenik dominan. Sedangkan karakter bentuk pinggang dikendalikan secara digenik dan digolongkan ke dalam isoepistasis. Isoepistasis disebabkan dua gen berperan sama, mengatur karakter yang sama, yaitu sedikit berpinggang, dimana salah satu gen dapat mengggantikan gen yang lain. Karakter retikulasi kulit polong dikendalikan oleh dua gen dominan yang berinteraksi dominan dan resesif, dan digolongkan dalam epistasis dominan dan resesif. Bentuk biji pada kacang tanah secara umum dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu bulat (smooth end), lonjong, dan pipih atau persegi (flat end). Pada persilangan antara Gajah (P1, bentuk biji bulat) dan Panter (P2, bentuk biji persegi) diperoleh bahwa bentuk biji bulat diwariskan oleh dua gen yang bersifat epistasis duplikat resesif. Jumlah biji per polong yang diperoleh pada persilangan antara P1 (Gajah) dan P2 (Panter) adalah dua biji per polong pada populasi F1 dan tiga biji per polong pada populasi F1r. Hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh tetua betina pada pewarisan jumlah biji per polong pada persilangan yang dilakukan. Uji χ² pada populasi F2 menunjukkan kesesuaian nisbah 9 : 7 untuk jumlah biji dua dan tiga per polong. Nisbah segregasi tersebut didukung oleh hasil segregasi pada silang balik terhadap Panter (P2), 1 (jumlah biji dua per polong) : 3 (jumlah biji tiga per polong) dan silang balik terhadap Gajah (P1), dua biji per polong. Hasil analisis pada populasi F2 untuk masing-masing karakter terdapat pada Tabel 1.


Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa populasi F2 menyebar normal. Sebaran unimodal dengan bentuk kurva normal pada generasi F2 menunjukkan karakter tersebut diwariskan secara kuantitatif. Meskipun populasi F2 pada pada penelitian ini menyebar normal, namun tidak dapat disimpulkan bahwa gen pengendali ukuran biji pada persilangan ini adalah poligenik. Pada studi ini, rata-rata ukuran biji pada kedua tetua hampir sama yaitu Gajah (P1) 0,46 g/biji dan Panter (P2) 0,47 g/biji, sehingga segregasi pada hasil persilangannya berada pada kelas-kelas fenotipik yang sulit dibedakan. Berdasarkan deskripsi varietas, Gajah memiliki ukuran biji sedang yaitu 53 g/100 biji dan Panter tergolong berukuran biji kecil, 35 − 40 g/100 biji. Ukuran biji merupakan salah satu karakter kuantitatif yang dipengaruhi oleh lingkungan, sehingga pada penelitian ini ukuran biji kedua tetua berbeda apabila dibandingkan dengan ukuran biji pada deskripsi varietas. Ukuran biji antara kedua tetua yang tidak berbeda tajam dan pengaruh faktor lingkungan kemungkinan membiaskan pengelompokan ukuran biji pada hasil persilangan. Hasil analisis pewarisan karakteristik polong dan biji yang didapatkan menunjukkan adanya peluang untuk memperoleh galur dengan karakteristik jumlah biji tiga per polong, ukuran biji sedang, dan bentuk biji bulat. NN dkk., disarikan dari prosiding semnas Peripi Komda Jabar 2012.