Info Teknologi » Potensi Gulma Siam sebagai Bioherbisida

Tumbuhan gulma Siam, Chromolaena odorata (L.)

Tumbuhan gulma Siam, Chromolaena odorata (L.)

Pertumbuhan gulma yang agresif dapat menimbulkan persaingan dengan tanaman budidaya, terutama untuk memperoleh faktor tumbuh yang terbatas, antara lain air, unsur hara, dan cahaya matahari. Persaingan tersebut mengakibatkan tanaman budidaya tidak tumbuh dengan normal. Herbisida masih dianggap efektif dan efisien dalam menanggulangi gulma, dikarenakan penggunaan herbisida dapat menekan kebutuhan tenaga kerja dibandingkan penyiangan secara manual dan mekanis. Akan tetapi, penggunaaan herbisida secara terus-menerus dapat menyebabkan terjadinya polusi sumber-sumber air, menyebabkan kerusakan tanah, dan meninggalkan residu herbisida yang bersifat toksik pada produk pertanian. Penanggulangan gulma dapat dilakukan secara ramah lingkungan untuk menghasilkan produk pertanian yang lebih aman, yaitu dengan menggunakan bioherbisida.

Gulma Siam (Chromolaena odorata (L.) merupakan salah satu gulma penting di Indonesia. Keberadaan gulma ini menyebabkan berkurangnya kapasitas tampung padang penggembalaan, menyebabkan keracunan pada ternak, dan menimbulkan bahaya kebakaran terutama pada musim kemarau. Akan tetapi, gulma ini juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk meningkatkan penyerapan unsur K tanaman, dan berpotensi sebagai nematisida nabati.

C. odorata termasuk spesies dari family Asteraceae yang berpotensi sebagai bioherbisida dengan kandungan flavonoid 4’, 5-dihydroxy-3,7-dimethoxyflavone pada semua bagian tanaman. Daun C. odorata juga mengandung senyawa metabolit sekunder, diantaranya alkaloid (38%), flavonoid (23%), karotenoid (5%), turunan asam benzoate (4%), lignan (7%), turunan hydroxycinnamic (2%), saponin (4%), terpenoid (5%), dan tannic acid (10%). Tanin, flavonoid, alkaloid, dan terpenoid yang terkandung dalam daun C. odorata dapat bersifat alelopati. Tanin menghambat fungsi kerja giberelin, sehingga menjadikan pertumbuhan tanaman terhambat. Terpenoid dapat menghambat fungsi hormon auksin yang dapat menghambat terjadinya etiolasi pada koleoptil tanaman.

Penelitian untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun C. odorata terhadap pertumbuhan gulma telah dilakukan pada komoditas kedelai dan kacang hijau (model untuk gulma berdaun lebar), serta padi (model untuk gulma rumput). Ekstrak daun C. odorata dibuat dengan cara melarutkan simplisia ke dalam ethanol 95%. Pembuatan simplisia diawali dengan pengovenan daun C. odorata segar pada suhu 65˚C selama 24 jam kemudian di haluskan menggunakan blender. Selanjutnya, rendaman simplisia tersebut dibiarkan selama 24 jam pada suhu ruang, kemudian ditambahkan aquades sebanyak 200 ml dan disaring dengan kertas saring. Benih uji disusun diatas kertas CD yang terlebih dahulu dibasahi dengan larutan ekstrak daun C. odorata pada berbagai konsentrasi, lalu digulung dan diberdirikan dalam wadah, selanjutnya diamati pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.

Pemberian ekstrak daun C. odorata menimbulkan respons yang berbeda pada pertumbuhan tanaman kedelai, kacang hijau, dan padi. Pada kedelai, aplikasi ekstrak daun C. odorata 10% menyebabkan pertumbuhan pada bagian plumula saja hingga umur 10 hst, sedangkan bagian akar (radikula) dan daun belum terbentuk. Aplikasi ekstrak daun C. odorata konsentrasi 20% dan 30% menghambat pertumbuhan plumula, radikula, dan daun kedelai (Gambar 1 dan Gambar 4a).

gulma gulma2
gulma3 gulma4
Gambar 1. Pertumbuhan plumula, radikula, dan jumlah daun kedelai dengan konsentrasi ekstrak daun C. odorata 0%, 10%, 20%, dan 30%.

Pada kacang hijau, pertumbuhan plumula sudah terjadi sebelum 4 hst dengan aplikasi ekstrak daun C. odorata konsentrasi 10%, sedangkan pertumbuhan radikula dan daun baru terjadi setelah 4 hst. Panjang plumula dan radikula semakin bertambah dari 7 hst hingga 10 hst, sedangkan jumlah daun tidak bertambah. Aplikasi ekstrak daun C. odorata konsentrasi 20% dan 30% menyebabkan terhambatnya pertumbuhan plumula, radikula, dan jumlah daun kacang hijau (Gambar 2 dan Gambar 4b).

gulma5 gulma6
gulma7 gulma8
Gambar 2. Pertumbuhan plumula, radikula, dan jumlah daun kacang hijau dengan konsentrasi ekstrak daun C. odorata 0%, 10%, 20%, dan 30%.

Pada padi, pemberian ekstrak daun C. odorata konsentrasi 10%, bagian akar padi mulai tumbuh mendekati hari ketujuh setelah tanam, sementara plumulanya tumbuh setelah 7 hst. Tidak terdapat pertumbuhan plumula dan radikula pada pemberian ekstrak daun C. odorata dengan konsentrasi 20% dan 30% (Gambar 3 dan Gambar 4c).

gulma9 gulma10
gulma11 gulma12
Gambar 3. Pertumbuhan plumula, radikula, dan jumlah daun padi dengan konsentrasi ekstrak daun C. odorata 0%, 10%, 20%, dan 30%.
gulma13 gulma14 gulma15
 gulma16 gulma17  gulma18
 gulma19  gulma20  gulma21
 gulma22 gulma23  gulma24
(a) (b) (c)
Gambar 4. Pengaruh aplikasi ekstrak daun C. odorata terhadap pertumbuhan (a) kedelai, (b) kacang hijau, dan (c) padi pada 10 hari setelah tanam

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun C. odorata dengan konsentrasi 20% dan 30% berpotensi sebagai bioherbisida yang dapat mengendalikan pertumbuhan gulma.

Tautan publikasi: https://nstproceeding.com/index.php/nuscientech/article/view/278

Siti Muzaiyanah