Info Teknologi ยป Potensi Pengembangan Tanaman Semusim di Bawah Tegakan Jati (Tectona grandis) di Jawa Timur

Pemanfaatan hutan untuk kegiatan pertanian dikenal istilah agroforestry yang didefinisikan sebagai suatu sistem penggunaan lahan dimana pada lahan yang sama ditanam secara bersama-sama antara tanaman pertanian dengan tegakan hutan. Salah satu kawasan hutan yang sangat potensial sebagai perwujudan pola agroforestry adalah kawasan hutan jati (Tectona grandis) yang dikelola oleh Perum Perhutani karena telah diatur tata ruangnya dengan intensif. Kawasan hutan jati yang dikelola oleh Perum Perhutani (pulau Jawa dan Madura) mencapai luas 2,52 juta ha yang terdiri dari hutan produksi seluas 1,82 juta ha dan hutan lindung seluas 0,69 juta ha. Perum Perhutani telah menerapkan sistem Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yaitu mengelola bersama masyarakat ataupun pihak lain (stakeholders). Masyarakat desa di sekitar kawasan hutan telah dikoordinir dalam wadah Lembaga Masyarakat Desa disekitar Hutan (LMDH). Euforia kebebasan pada awal reformasi mengakibatkan penjarahan dan penebangan hutan produksi yang dikelola Perhutani oleh masyarakat, maka hingga kini masih menyisakan lahan yang terbuka atau berupa hutan produksi berumur muda yang masih cukup luas. Hal ini sangat berpeluang untuk dimanfaatkan dengan tanaman pertanian. Tanaman pertanian yang banyak diusahakan oleh petani di sekitar hutan biasanya dipilih tanaman yang mudah perawatannya, rendah modal dan mudah pemasarannya. Sebagai contoh di kawasan Perum Perhutani KPH Blitar, Desa Sumberingin, Kecamatan Sumberingin, Kabupaten Blitar, tanaman yang dipilih petani diantaranya adalah ubikayu, nanas, pepaya, cabai dan rumput kolonjono. Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk bertani di bawah tegakan diantaranya adalah pengolahan tanah dilakukan secara manual karena cara mekanisasi dapat mengganggu perakaran tegakan, perempesan tegakan mengikuti aturan yang telah ditetapkan dan penanaman dilakukan pada tegakan umur muda. Bagi petani yang mempunyai modal kuat maka akan mengusahakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi seperti nanas dan cabai. Usahatani ubikayu di bawah tegakan jati dengan cara sederhana dapat memberikan keuntungan yang tinggi. Dengan cara tebas, keuntungan yang diperoleh mencapai 23,5 juta rupiah dengan nilai B/C ratio 5,21. Usahatani nanas dapat memperoleh keuntungan sebesar 56,5 juta rupiah dengan nilai B/C ratio 3,06. Tanaman cabe yang mempunyai fluktuasi harga yang tinggi memberikan keuntungan yang tinggi bila kondisi harga cukup baik yaitu sebesar 60,9 juta rupiah dengan B/C ratio 1,95. Demikian juga tanaman pepaya yang ditanam dibawah tegakan dapat memberikan keuntungan sebesar 20,59 juta rupiah (B/C ratio 3,81). Rumput kolonjono juga tidak dapat dianggap ringan karena dengan modal yang sangat rendah dan cara budidaya yang sangat sederhana dapat memberi keuntungan sebesar 22,47 juta rupiah per tahun. Dari hasil tersebut diatas tampak bahwa potensi tanaman pertanian di lahan bawah tegakan jati sangat besar terutama untuk peningkatan kesejahteraan petani disekitar hutan.


Tanaman ubikayu dibawah tegakan pohon jati dan tanaman nanas dibawah tegakan pohon jati.


Tanaman cabai dibawah tegakan pohon jati dan tanaman pepaya dibawah tegakan pohon jati.


Tanaman rumput Kolonjono di bawah tegakan pohon jati.

Nila Prasetiaswati