Info Teknologi ยป Respon Hasil dan Ketahanan Kacang Tanah di Lahan Endemik Layu di Pati Jawa Tengah

layu1

Salah satu kendala penting peningkatan produksi kacang tanah di Indonesia adalah penyakit layu bakteri Ralstonia. Sebuah pustaka melaporkan bahwa setelah tahun 1920 seluruh tanah di Jawa telah terkontaminasi oleh bakteri layu Ralstonia solanacearum (Gambar 1). Kehilangan hasil akibat penyakit layu bakteri berkisar antara 15-35% pada varietas tahan, dan mencapai 60-100% pada varietas rentan yang ditanam di lahan dengan infestasi tinggi (Gambar 2).

Gambar 1. Sebaran areal tanam kacang tanah (atas) dan sebaran penyakit layu bakteri Ralstonia (bawah)

Sumber : Adisarwanto et al. (2001) dan Mehan et al. (1994)

Gambar 2. Hasil polong varietas tahan layu bakteri (kanan) dan varietas rentan (kiri)Meskipun telah tersedia banyak varietas unggul tahan, penyakit layu bakteri Ralstonia masih menjadi masalah serius di sebagian besar sentra produksi kacang tanah di Indonesia. Oleh karena itu, ketahanan terhadap penyakit layu bakteri menjadi prasyarat pelepasan varietas unggul kacang tanah di Indonesia. Selama kurun waktu 1950-2013, pemerintah Indonesia telah melepas 39 varietas unggul kacang tanah, 26 di antaranya dideskripsikan sebagai tahan penyakit layu bakteri. Dari 26 varietas unggul tahan layu bakteri tersebut, 20 varietas di antaranya mendapatkan sumber ketahanan dari Schwarz 21, baik secara langsung maupun tidak langsung. Schwarz 21 adalah varietas unggul kacang tanah tahan layu pertama yang dilepas di Indonesia pada era pemerintahan Belanda yaitu pada tahun 1925. Pemanfaatan gen-gen ketahanan terhadap penyakit layu bakteri dalam pemuliaan kacang tanah telah dilakukan dengan melakukan persilangan buatan pada tahun 2004. Pengembangan populasi bersegregasi (F2 hingga F5) dilakukan di Banjarnegara. Hingga generasi F4 populasi bahan seleksi ditanam di lahan kering dan mendapat cekaman penyakit layu yang tinggi seperti ditunjukkan oleh intensitas penyakit layu pada genotipe indikator rentan Chico yang mencapai 100%. Galur-galur terpilih selanjutnya dievaluasi keragaan hasil dan ketahanannya di daerah endemik layu, di KP Muktiharjo dan di kec. Tayu, Kab Pati pada MK2 2012. Pati merupakan salah satu daerah endemik layu bakteri dengan infestasi layu sangat berat. Rata-rata intensitas layu di Tayu lebih tinggi dibandingkan di KP Muktiharjo, dan respon ketahanan galur-galur yang diuji tidak konsisten di kedua lokasi. Perilaku galur yang demikian menunjukkan adanya pengaruh lingkungan yang cukup besar terhadap keragaan galur-galur yang diuji. Chico yang merupakan pembanding rentan, mati total di Tayu namun mempunyai intensitas layu lebih rendah di Muktiharjo. Lokal Pati, varietas lokal tahan layu asal kec. Tayu mempunyai intensitas layu lebih tinggi di Muktiharjo. Varietas unggul Gajah mempunyai intensitas terendah di Tayu, namun mempunyai intensitas layu yang lebih tinggi di Muktiharjo. Pada lokasi Tayu tidak didapatkan galur yang mempunyai ketahanan lebih tinggi dibandingkan Gajah, namun pada klasifikasi ketahanan yang sama dengan Gajah (intensitas layu <15% tergolong klasifikasi tahan) galur-galur yang diuji mempunyai hasil polong kering lebih tinggi (Tabel 1). Pada lokasi Muktiharjo, terdapat tiga galur yang mempunyai ketahanan dan hasil polong lebih tinggi dibandingkan lokal Pati dan Gajah (Tabel 1). Galur-galur yang tergolong tahan dan mempunyai hasil polong tinggi berpeluang untuk diuji stabilitas hasil dan ketahanannya pada uji multilokasi.

Tabel 1 Intensitas layu dan hasil polong kering genotipe kacang tanah di KP Muktiharjo dan Tayu, Pati, MK 2012

Hasil polong kering tinggi didapatkan pada galur-galur dengan intensitas penyakit layu bakteri rendah. Keadaan tersebut terjadi karena tanaman yang terserang penyakit layu bakteri mati sehingga mengurangi jumlah tanaman panen (Gambar 3).

Gambar 3. Pertumbuhan awal tanaman (atas) dan pertumbuhan setelah terjadi serangan layu karena bakteri R. solanaearum

NN/EY