Info Teknologi » Respon Petani terhadap Varietas Unggul Baru Vima-1

Kebutuhan komoditas kacang hijau di Provinsi Jawa Timur masih tinggi sebagai bahan pemenuhan konsumsi dan nutrisi bagi masyarakat. Kacang hijau merupakan bahan pangan dengan nilai beli terjangkau seluruh masyarakat dan mudah diperoleh. Produksi kacang hijau di petani harus ditingkatkan untuk memenuhi kebututuhan masyarakat dan industri dalam/luar Provinsi Jawa Timur, salah satu jalan adalah dengan menggunakan varietas unggul. Namun, saat ini belum banyak petani yang menggunakan varietas unggul baru (VUB) maupun inovasi baru lainnya yang dibutuhkan untuk meningkatkan usahatani. Beberapa kendala petani dalam mengadopsi inovasi baru adalah: kesulitan mencari benih unggul baru (VUB) adaptif, produksi tinggi, dan teknologi usahatani berbasis ekonomi. Kacang hijau merupakan komoditas potensial untuk meningkatkan pendapatan petani Jawa Timur. Sedikitnya ada sepuluh kabupaten di Jawa Timur yang menjadi penyumbang terbesar ketersediaan komoditas kacang hijau diantaranya kabupaten Sumenep, Sampang, Tuban, Lamongan, Bojonegoro, Banyuwangi, Bangkalan, Madiun, Mojokerto, dan Pasuruan. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai rata-rata luas panen, produktivitas, dan produksi dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2009‒2013).


Sumber: BPS, Provinsi Jawa Timur dalam Angka tahun 2009‒2013. Kabupaten Sumenep dan Sampang merupakan penyumbang tertinggi dari seluruh kabupaten di Jawa Timur. Komoditas kacang hijau di Kabupaten Sumenep ditanam menjelang akhir musim hujan dengan sistem tumpangsari dengan jagung/ubikayu atau monokultur. Cara tanam dilakukan dengan benih disebar atau larikan singkal bajak sapi. Dalam budidayanya, petani masih banyak menggunakan benih kacang hijau lokal yang berasal dari pedagang/pasar terdekat dengan mutu yang rendah. Pada pertanian modern sekarang, benih bermutu merupakan salah satu faktor pendukung utama dalam peningkatan produksi. Terobosan/strategi pemanfaatan teknologi varietas unggul baru (VUB) kacang hijau merupakan salah satu penentu peningkatan produksi. Upaya mendukung percepatan dan pengembangan usahatani dengan menerapkan penggunaan varietas unggul baru sebagai teknologi yang efektif dalam meningkatkan produksi. Pada akhir tahun 2013 Balitkabi memberikan bantuan benih varietas Vima-1 ke beberapa kelompok tani di Desa Tanah Merah, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep. Petani merespon sangat baik pada varietas Vima-1 dengan beberapa alasan yaitu: a) daya tumbuh benih baik, b) batang tanaman kuat, c) umur genjah, d) produksi tinggi, dan e) harga jual tinggi. Harga kacang hijau varietas unggul baru Vima-1 di tingkat pedagang pengumpul/tengkulak sama dengan harga kacang hijau lokal sebesar Rp12.000/kg. Perbedaan menarik dari usahatani menggunakan benih varietas Vima-1 dengan lokal adalah keuntungan per hektar menggunakan benih lokal sebesar Rp869.000−Rp1.784.000, sementara itu, apabila meggunakan benih varietas unggul baru Vima-1 memperoleh keuntungan per hektar sebesar Rp3.717.000–Rp4.115.000. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan varietas unggul baru Vima-1 dapat meningkatkan keuntungan 23,4−43,4% bagi usahatani kacang hijau di Kabupaten Sumenep. Pengembangan kacang hijau Varietas Vima-1 merupakan awal perubahan dari benih lokal ke benih bermutu dalam menciptakan sistem usahatani yang produktif, karena varietas Vima-1 toleran terhadap perubahan iklim dan memiliki keunggulan lain seperti umur pendek, panen serempak dan produktivitas tinggi. Respon petani yang tinggi terhadap varietas unggul baru (VUB) tidak dapat dipastikan petani mengadopsi inovasi dengan berkelanjutan. Karena beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain: jarak sumber VUB jauh, materi inovasi sulit diperoleh, upaya petugas pertanian tidak maksimal dalam mendiseminasikan ke petani (Subagyo et.al. 2005). Upaya petani mengadopsi inovasi berkelanjutan diperlukan dukungan maksimal dari pemerintah daerah maupun pusat dalam merealisasi pengadaan benih varietas Vima-1 oleh penangkar setempat untuk penyediaan pada musim tanam yang akan datang, peningkatan pengetahuan petugas pertanian daerah, dan kemandirian petani mengakses informasi inovasi baru melalui internet maupun pemenuhan benih varietas unggul.

Imam Sutrisno