Info Teknologi » Respons Tanaman Kacang Tunggak sebagai Pertanaman Kedua terhadap Residu Pemupukan Kacang Hijau di LKIK

Lahan kering iklim kering (LKIK) tersebar luas di Jawa Timur, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Selain tanaman perkebunan, pada umumnya petani memanfaatkan LKIK dengan membudidayakan tanaman serealia secara monokultur atau secara tumpang sari, tumpang gilir, maupun tumpang sisip dengan tanaman legum seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau, kacang tunggak, atau tanaman kacang-kacangan potensial lainnya. Masalah utama pada LKIK adalah kesuburan tanah rendah sehingga tidak mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal, dan curah hujan rendah dengan bulan kering lebih dari 7 bulan.

Gambar 1. Keragaan pertanaman kacang tunggak di LKIK Probolinggo

Gambar 1. Keragaan pertanaman kacang tunggak di LKIK Probolinggo

Kacang tunggak (Vigna unguiculata L. Walp.) adalah salah satu tanaman kacang potensial, berumur pendek dan toleran terhadap kekeringan, sehingga dapat dikembangkan di LKIK setelah tanaman utama, seperti padi dan jagung.

Penelitian untuk mengevaluasi pengaruh residu pemupukan pada tanaman kacang hijau pertanaman pertama terhadap tanaman kacang tunggak sebagai pertanaman kedua telah dilakukan di LKIK IP2TP Muneng, Probolinggo (Gambar 1). Kacang tunggak varietas KT 5 ditanam setelah kacang hijau varietas Vima 1 dipanen dan tidak diberi tambahan pupuk. Pemupukan pada tanaman kacang hijau pertanaman pertama adalah sebagai berikut: 1) tanpa pupuk; 2) 50 kg ZA + 50 kg SP36 + 100 kg KCl/ha; 3) 150 kg Phonska/ha; 4) 5000 kg pupuk kandang/ha; dan 5) 75 kg Phonska + 2500 kg pupuk kandang/ha.

Tabel 1. Pengaruh pupuk terhadap sifat kimia tanah setelah panen kacang hijau sebelum tanam kacang tunggak di LKIK Probolinggo
Perlakuan
pemupukan
C-organik
(%)
N-total
(%)
P2O5 Bray-1
(ppm)
Sebelum tanam kacang hijau 0,77 0,070 83
Residu pupuk (kg/ha)
–– Tanpa pupuk  0,55  0,035  112
–– 50 ZA + 50 SP36 + 100 KCl  0,56  0,045  110
–– 150 Phonska 0,81  0,045  120
–– 5000 pupuk kandang  0,94  0,042  109
–– 75 Phonska+2500 pupuk kandang 0,38 0,055 113

Budidaya kacang hijau pada LKIK Probolinggo dengan atau tanpa pemupukan NPKS dan pupuk kandang menurunkan kadar N-total, tetapi meningkatkan ketersediaan unsur hara P setelah panen kacang hijau (Tabel 1). Pemupukan 50 kg ZA + 50 kg SP36 + 100 kg KCl/ha dan 75 kg Phonska + 2500 kg pupuk kandang/ha tidak dapat meningkatkan kadar C-organik tanah. Peningkatan kadar C-organik tanah setelah panen kacang hijau dapat diperoleh apabila tanaman dipupuk 150 kg Phonska/ha atau 5000 kg pupuk kandang/ha.

Produksi biomas panen tertinggi didapat pada jarak tanam 40 x 10 cm, 1 tanaman/rumpun, yaitu 3,23 t/ha. Pada peubah hasil biji, hanya penggunaan 150 kg Phonska/ha yang dapat meningkatkan hasil biji kacang hijau dari 1,63 t/ha menjadi 1,79 t/ha (10%) dibandingkan dengan tanpa pemupukan. Peningkatan hasil biji tersebut ditunjang oleh perbaikan pertumbuhan dan peningkatan jumlah polong isi/tanaman. Hasil biji yang diperoleh dengan pemberian 150 kg phonska/ha (1,79 t/ha) relatif sama dengan 75 kg phonska + 2500 kg pupuk kandang/ha maupun 50 kg ZA + 50 kg SP36 + 100 kg KCl/ha (1,74 t/ha). Sebaliknya, pemberian 5000 kg pupuk kandang/ha tidak meningkatkan hasil biji kacang hijau dibanding tanpa pemupukan (Tabel 2).

Tabel 2. Pengaruh jarak tanam dan pemupukan terhadap komponen hasil dan hasil kacang hijau varietas Vima 1 di LKIK Probolinggo
Perlakuan Hasil biji pada
kadar air 12% (t/ha)
Produksi biomas
panen (t/ha)
Jarak tanam (cm)
–– 40 x 10, 1 tnm/rumpun 1,68 3,23
–– 40 x 15, 2 tnm/rumpun 1,74 2,47
–– 40 x 20, 2 tnm/rumpun 1,70 3,19
Pemupukan (kg/ha)
–– Tanpa pupuk 1,63 2,68
–– 50 ZA+50 SP-36+100 KCl 1,74 3,01
–– 150 Phonska 1,79 3,06
–– 5000 pupuk kandang ,62 2,87
–– 75 Phonska + 2500 pukan 1,74 3,19

Residu pupuk organik anorganik dan bekas jarak tanam pada pertanaman kacang hijau tidak mempengaruhi produksi biji dan biomas panen tanaman kacang tunggak. Kacang tunggak mencapai hasil rata-rata 1,58 t/ha; 5,6 polong isi/tanaman, dan bobot 100 biji 13,86 g dengan biomas panen 5,69 t/ha (Tabel 3).

Tabel 3. Pengaruh bekas jarak tanam dan residu pupuk pada kacang hijau terhadap kacang tunggak varietas KT 5 di LKIK Probolinggo
Perlakuan Hasil biji pada
kadar air 12% (t/ha)
Produksi
biomas panen (t/ha)
Bekas jarak tanam (cm)
–– 40 x 10, 1 tnm/rumpun (J1) 1,56 6,05
–– 40 x 15, 2 tnm/rumpun (J2) 1,57 5,63
–– 40 x 20, 2 tnm/rumpun (J3) 1,62 5,39
Residu pemupukan (kg/ha)
–– Tanpa pupuk (R0) 1,58 5,24
–– 50 ZA+50 SP36+100 KCl (R1) 1,54 5,65
–– 150 Phonska (R2) 1,60 5,78
–– 5000 pupuk kandang (R3) 1,58 5,92
–– 75 Phonska+2500 pupuk kandang (R4) 1,62 5,84

Residu pupuk organik anorganik mempengaruhi kadar unsur N, K, dan Ca dalam biomas panen kacang tunggak (Tabel 4). Penggunaan 150 kg Phonska/ha atau 5000 kg pupuk kandang/ha pada tanaman kacang hijau pada musim tanam pertama dapat digunakan sebagai salah satu komponen teknologi untuk memproduksi biomas panen tanaman kacang tunggak pada musim tanam kedua maupun konservasi LKIK.

Tabel 4. Pengaruh residu pupuk pada kacang hijau terhadap kadar unsur dalam biomas panen kacang tunggak varietas KT-5 di LKIK Probolinggo
Residu pemupukan
(kg/ha)
N (%) P (%) K (%) Ca (%) Mg (%) S (%)
Biomas panen
Tanpa pupuk  1,76  0,34  1,71  2,58  0,45  0,22
50 ZA+50 SP36+100 KCl  1,66  0,33  1,76  3,30  0,46  0,24
150 Phonska  1,52  0,31  1,70  3,15  0,47  0,23
5000 pupuk kandang  1,89  0,39  1,52  2,88  0,45  0,24
75 Phonska+2500 pukan  1,82  0,37  1,95  3,06  0,46  0,22
Rata-rata
Kategori
 1,73
Rendah
 0,35
Cukup
 1,73
Cukup
 3,00
Tinggi
 0,46
Cukup
 0,23
Rendah

Biomas panen kacang tunggak masih berwarna hijau dan mengandung unsur hara, sehingga dapat berfungsi sebagai sumber nutrisi apabila dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak. Hijauan yang dimaksud meliputi daun, tangkai daun, dan ranting yang dapat dimakan (edible). Pada penelitian ini, biomas panen kacang tunggak mengandung 3% Ca dan 0,35% P yang masih berada pada kisaran yang sesuai untuk digunakan sebagai pakan.

Sebagai pakan ternak, leguminosa merupakan sumber protein karena umumnya mengandung protein kasar >18%, sedangkan jenis graminae merupakan sumber serat kasar yang membentuk energi. Tanaman leguminose juga berfungsi sebagai cover crop yang dapat menyuburkan tanah, karena kemampuannya menambat N dari udara, produksi biomas tinggi, mudah dibudidayakan, mudah diperbanyak, kualitas hijauan tinggi, toleran kekeringan, menahan erosi, memperbaiki kesuburan tanah, dan aman serta disukai ternak.

Penggunaan pupuk organik diperlukan pada budidaya tanaman pangan pada LKIK untuk menjaga keberlangsungan produktivitas tanah dan tanaman. Biomas panen bisa dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak, selanjutnya limbah peternakan berfungsi sebagai sumber pupuk organik. Oleh karena itu, integrasi tanaman dan ternak sangat bermanfaat untuk dikembangkan pada sistem pertanian terpadu LKIK dengan konsep minimal run off dan zero waste. Sistem ini merupakan alternatif teknologi terbaik untuk mendukung pengembangan sistem pertanian lahan kering berkelanjutan (Bamualim 2011).

Tautan referensi: https://doi.org/10.18343/jipi.25.4.644

Sri Ayu Dwi Lestari