Info Teknologi » Strategi dan Peran Kelembagaan Tani Menuju Kemandirian Benih Kedelai

Gagasan swasembada kedelai nasional telah digaungkan pemerintah sejak dua setengah dekade yang lalu. Namun, faktanya hingga kini swasembada kedelai belum juga terwujud. Masih banyak hal yang perlu dilakukan dan dibenahi untuk menuju swasembada tersebut, karena hingga tahun 2017, sekitar 65% kebutuhan kedelai untuk konsumsi di Indonesia berasal dari impor.

infotek-20-8-21-strategi-kedelai-4

Bahkan, pada Rakernas Kementan pada bulan Januari 2021 lalu dilaporkan bahwa produksi kedelai dalam negeri pada tahun 2020 hanya 296.989 ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 3.130.466 ton, sehingga 90,51% kekurangannya harus dipenuhi dari impor.

Semua komponen yang terlibat sepakat bahwa tersedianya benih unggul dan bermutu tinggi merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan produksi kedelai nasional menuju swasembada. Bukan hanya aspek unggul dan bermutu tinggi, tetapi ‘tujuh syarat tepat’ harus dipenuhi, meliputi tepat varietas, tepat jumlah, tepat mutu, tepat waktu, tepat lokasi, tepat harga, dan tepat layanan.

Pengembangan perbenihan secara umum melibatkan semua subsektor perbenihan mulai hulu hingga hilir, termasuk di dalamnya subsektor produksi Benih Sebar / BR. Terkait dengan hal tersebut, peran kelembagaan tani, khususnya Kelompok Tani (Poktan) di sentra-sentra produksi kedelai sangat penting, agar terwujud swasembada benih di setiap wilayah guna mendukung swasembada kedelai nasional.

Gagasan untuk swasembada benih kedelai di setiap wilayah telah disampaikan sejak 12 tahun yang lalu. Melalui berbagai kebijakan di tingkat pusat (Kementerian dan Ditjen terkait), diharapkan penyediaan benih kedelai, khususnya Benih Sebar / BR dan Benih Pokok / BP perlu dilaksanakan secara mandiri di setiap wilayah.

Hal tersebut bertujuan antara lain untuk menghindari distribusi benih dari tempat / lokasi lain yang cukup jauh, sehingga dapat mengurangi / menghemat biaya pengiriman dan memperpendek waktu pengiriman benih, terutama karena benih kedelai tidak memiliki masa dormansi.

Hal tersebut sejalan dengan hasil Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kementerian Pertanian pada tanggal 11-13 Januari 2021, yang antara lain disebutkan bahwa ketersediaan dan kualitas benih kedelai belum terjamin. Oleh karena itu, produksi benih kedelai unggul perlu dikembangkan dengan membangun infrastruktur perbenihan di lokasi sentra produksi untuk menjamin ketersediaan benih tepat waktu.