Info Teknologi ยป TAKAR 1 dan TAKAR 2, Varietas Unggul Kacang Tanah Terbaru

1-takarn-2

Dua varietas unggul baru kacang tanah yaitu TAKAR 1 dan TAKAR 2 telah dilepas berdasarkan SK Kementan No 3253/Kpts/SR.120/9/2012 dan No 3255/Kpts/SR.120/9/2012. TAKAR 1 mempunyai keunggulan potensi hasil tinggi (4,3 t/ha polong kering), tahan penyakit layu bakteri dan penyakit karat daun, adaptif pada lahan kering masam (pH 4,5-5,6) dengan kejenuhan Al sedang (2,8 t/ha hasil polong kering), dan berindikasi tahan kutu kebul (Gambar 1). TAKAR 2 mempunyai keunggulan potensi hasil tinggi (3,8 t/ha polong kering), tahan penyakit layu bakteri dan penyakit karat daun, dan adaptif pada lahan kering masam (pH 4,5-5,6) dengan kejenuhan Al sedang (Gambar 2).

Ketahanan terhadap penyakit karat akan memberikan bonus pakan bagi petani karena tanaman tetap dalam keadaan relatif segar pada saat penen dan meningkatkan hasil dan mutu biji, sedangkan toleransi terhadap lahan masam akan memberikan kesempatan besar untuk meningkatan produksi dengan menambah areal tanam pada lahan kering masam. Budidaya kacang tanah pada lahan kering masam menguntungkan dibandingkan tanaman pangan lainnya. Tersedia lahan 25 juta ha lahan kering masam, saat ini baru memberikan kontribusi produksi kurang dari 5% produksi kacang tanah nasional.

Gambar 1. Varietas TAKAR 1 (GH 4)

Gambar 2. Varietas TAKAR 2 (GH 5) TAKAR 1 adalah keturunan persilangan antara varietas Macan dan ICGV 91234. Varietas Macan memiliki ketahanan terhadap penyakit layu dan beradaptasi luas, namun rentan terhadap penyakit daun. ICGV 91234 adalah varietas introduksi tahan penyakit daun, terutama karat yang disebabkan oleh jamur P. arachidis. Persilangan buatan dilakukan di rumah kaca pada tahun 1998. Melalui seleksi dengan metode pedigri sampai F5, diperoleh galur P 9816-(315-210-96)-20-3 (GH4) yang memiliki kombinasi karakter varietas Macan dan galur ICGV 91234. TAKAR 2 adalah keturunan silangan pasangan varietas Lokal Muneng dan ICGV 92088. Kacang tanah varietas Lokal Muneng memiliki ketahanan terhadap penyakit layu dan karakteristik polong-biji bagus, namun rentan terhadap penyakit daun. ICGV 92088 adalah varietas introduksi tahan penyakit daun, terutama karat yang disebabkan oleh jamur P. arachidis. Persilangan dilakukan tahun 2001, dan dilanjutkan dengan seleksi bulk dan galur hingga didapatkan galur Mn/9208802-B-0-1-2 (GH 5) yang memiliki kombinasi karakter varietas lokal Muneng dan ICGV 92088. Uji daya hasil pendahuluan dan uji daya hasil lanjutan dilakukan pada tahun 2007-2008. Uji adaptasi terhadap delapan galur terpilih termasuk galur P 9816-20-3 (GH4/TAKAR1) dan Mn/9208802-B-0-1-2 (GH 5/TAKAR 2) dengan dua varietas pembanding (Kancil dan Jerapah) dilaksanakan di 16 lingkungan di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Lampung Selatan dan Lampung Tengah pada musim tanam tahun 2009 dan 2010. Untuk mengetahui interaksi genotipe yang diuji terhadap lingkungan dilakukan analisis model AMMI. Hasil analisis dipetakan pada

Gambar 3. Biplot antara IPCA 1 dan IPCA 2 (10 genotipe (angka dengan bulatan dibawahnya) dan 16 lingkungan (angka tanpa bulatan) (Efektivitas Model 59,9%) Gambar 3 memperlihatkan bahwa TAKAR 1 dan TAKAR 2 adalah spesifik lokasi/lingkungan. TAKAR 1 (No 3) berinteraksi positif pada lingkungan 4 (lingkungan sawah tadah hujan beriklim kering, musim kemarau) dan lingkungan 15 (lahan kering iklim kering, dataran rendah jenis tanah Alfisol). Takar 2 berinteraksi positif dengan lingkungan 13 (lahan kering beriklim kering, tanah vulkanik). Artinya galur harapan tersebut sesuai dibudidayakan pada lingkungan yang berinteraksi positif dengannya. Sebaliknya, galur TAKAR 1 (No. 3) berinteraksi negatif dengan lingkungan 8 (Pacitan), dan TAKAR 2 ( No. 4) berinteraksi negatif dengan lingkungan 16 (Pati) yang karenanya akan memberikan penampilan hasil yang kurang baik bila ditanam di lingkungan yang berinteraksi negatif tersebut (Gambar 3). Lingkungan uji adaptasi tergolong ke dalam lingkungan sub-optimal sebagaimana yang terlihat dari nilai indeks lingkungan. Semua lingkungan uji memiliki indeks lingkungan (IL) kurang dari 1,0. Genotipe (galur/varietas) yang toleran (tenggang) terhadap keadaan lingkungan yang sub-optimal, maka stabilitas hasilnya bukan dikendalikan oleh kompensasi dari komponen hasil. Wajak I merupakan lingkungan yang paling produktif di dalam pengujian ini dengan indek lingkungan tertinggi. Wajak I adalah lahan sawah tadah hujan, dan kacang tanah biasa ditanam pada musim kemarau sesudah padi dipanen. Pada lingkungan demikian produktivitas TAKAR 1 di atas 4,0 t/ha polong kering. Pada lingkungan yang sama hasil varietas Jerapah dan Kancil di atas 2,50 t/ha. Varietas TAKAR 1 unggul terhadap varietas Jerapah di delapan lingkungan, tujuh lingkungan sama dan hanya di satu lingkungan kalah dengan varietas Jerapah. TAKAR 1 unggul terhadap varietas Kancil di sembilan lingkungan, enam lingkungan sama dan hanya di satu lingkungan kalah dengan varietas Kancil. Varietas TAKAR 2 unggul terhadap varietas Jerapah di 14 lingkungan, satu lingkungan sama dan hanya di satu lingkungan kalah dengan varietas Jerapah, yaitu di lahan kering iklim kering tanah Alfisol. Takar 2 unggul terhadap varietas Kancil di 11 lingkungan, lima lingkungan sama dan tidak pernah lebih rendah dari varietas Kancil.Varietas TAKAR 1 dan TAKAR 2 memberikan hasil polong tinggi pada lahan kering masam dengan kejenuhan Al rendah hingga sedang, masing-masing 2,8 t/ha dan 3,1 t/ha polong kering. Di tempat yang sama hasil polong rata-rata varietas Jerapah dan Kancil masing-masing 2,5 dan 2,8 t/ha polong kering. Tingkat hasil yang dicapai mengisyaratkan bahwa ke dua varietas unggul baru terebuttersebut adaptif pada lahan kering masam dengan kejenuhan Al rendah hingga sedang, yaitu di Lampung Selatan dan Lampung Tengah (lokasi nomor 12 dan 13) (Gambar 3).
Penyakit layu merupakan penyakit utama pada kacang tanah dan tersebar di berbagai sentra produksi dengan rata-rata kehilangan hasil 35%. Pengendalian penyakit layu dengan menggunakan varietas tahan paling efektif dan efisien dari pada cara pengendalian penyakit layu yang lain. Galur kacang tanah yang dipilih hingga F8 bila memberikan tanggap tahan atau agak tahan terhadap penyakit layu (<18% tanaman layu). Penyakit daun (karat dan bercak daun) mulai menyerang kacang tanah sejak fase vegetatif aktif hingga fase reproduktif. Umur 75-80 hari setelah tanam merupakan periode kritis kacang tanah terhadap serangan penyakit daun karena berdampak pada kehilangan hasil. Pengamatan pada periode kritis umur 60 sampai dengan umur 90 hari menunjukkan intensitas penyakit rata-rata <0,5 atau skor rata-rata 1-2 atau sangat tahan dan tahan terhadap serangan penyakit karat (Tabel 1).

Tabel 1. Intensitas penyakit karat di Jambegede dan Rumah Kaca umur 70 hari MK 2010

Sumber: Sumartini (2011)
TAKAR 1 berindikasi toleran terhadap serangan hama kutu kebul. Genotipe kacang tanah yang toleran hama kutu kebul menunjukkan pertumbuhan yang normal. Sebaliknya, genotipe kacang tanah yang rentan tumbuh lebih pendek. Pada kondisi serangan kutu kebul yang berat, masing-masing sebanyak 145 dan 475 ekor/tanaman (Suharsono dan Paramitasari. 2011), TAKAR 1 dan TAKAR 2 memberikan hasil polong, masing-masing 1,94 t/ha dan 1,23 t/ha, lebih tinggi dari varietas Jerapah dan Kancil. Hal tersebut merupakan indikasi toleran terhadap kutu kebul (Tabel 2). TAKAR 1 memberikan hasil lebih tinggi dari varietas pembanding toleran (Talam 1). Varietas rentan (Domba) hanya memberikan hasil 0,16 t/ha polong kering (Tabel 2).

Tabel 2. Hasil Polong (t/ha) beberapa genotipe kacang tanah pada lingkungan tercekam kutu Kebul. Muneng, MK 2 tahun 2011


TAKAR 1 dan TAKAR 2 tergolong ke dalam kacang tanah tipe Spanish (polong berbiji dua). TAKAR 1 mempunyai ukuran biji besar (65,65g/100biji), sedangkan TAKAR 2 mempunyai ukuran biji sedang (47,6g/100biji). Keunggulan pada TAKAR 1 dan TAKAR 2 terhadap varietas pembanding Jerapah dan Kancil, tertera pada Tabel 3. Potensi hasil, hasil polong rata-rata dan ketahanan terhadap penyakit karat lebih baik dari varietas pembanding Jerapah dan Kancil. TAKAR 1 memiliki toleransi terhadap lahan masam (pH 4,7-5,1 dengan aras kejenuhan alumunium (Al) yang rendah hingga sedang) yang sama dengan varietas pembanding Jerapah dan Kancil, sebaliknya TAKAR 2 toleransinya lebih baik dari varietas pembanding Jerapah dan Kancil. TAKAR 1 dan TAKAR 2 memberikan hasil polong nyata lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding Jerapah dan Kancil di Lampung Selatan. Produktivitas GH4 dan GH5 di Lampung Tengah nyata lebih tinggi dibandingkan varietas Jerapah dan setara dengan varietas Kancil. Nisbah asam lemak oleat terhadap linoleat TAKAR 1 lebih tinggi dari varietas pembanding, sebaliknya TAKAR 2 sama dengan varietas pembanding.

Tabel 3. Matriks keunggulan TAKAR 1 dan TAKAR 2 terhadap varietas pembanding Jerapah dan Kancil


Varietas TAKAR 1 dan TAKAR 2 sejak seleksi hingga uji adaptasi ditanam dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm dan 2 biji per lubang atau 320 000 tanaman/ha, Keperluan benih 100 kg/ha. Sebagai pupuk dasar diberikan pupuk dengan 45-50 kg Urea, (90-100 kg TSP) dan (90-100) KCl/ha atau pupuk Ponska 300 kg/ha. Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 dan 4 minggu setelah tanam. Pengairan tergantung air hujan, namun bila tersedia diairi pada periode kritis, yaitu: segera setelah tanam, waktu berbunga umur 30-32 hari setelah tanam, saat pembentukan polong umur 70-75 hari. Tanaman dipanen pada umur 85-90 hari setelah tanam. Lahan-lahan Sumatera, Kalimantan dan Papua umumnya bermasalah dengan kemasaman dan keracunan aluminium. Diantara tanaman pangan, kacang tanah paling adaptif di lahan kering masam dan paling menguntungkan dibandingkan dengan komoditas tanaman pangan lainnya. Bila 1% lahan tersebut dapat ditanami dengan kacang tanah dan memberikan hasil 1,0 t/ha, maka tambahan luas tanam dan kekurangan produksi kacang tanah sekitar 100.000 ton hingga 175.000 ton dapat dipenuhi sehingga kebutuhan dalam negeri terpenuhi.