Info Teknologi » Teknologi Budi Daya Kacang Tanah Di Lahan Kering Beriklim Kering Sumba Timur, NTT

Keragaan kacang tanah di LKIK Sumba Timur

Keragaan kacang tanah di LKIK Sumba Timur

PENDAHULUAN

Laju kebutuhan kacang tanah di Indonesia meningkat sekitar 4,4% setiap tahun, sedangkan laju peningkatan produksi sekitar 2,5% setiap tahun. Hal ini berarti masih terdapat senjang antara kebutuhan dengan pasokan, rata-rata 200.000 t/tahun. Selama ini, pemenuhan kebutuhan masyarakat akan komoditas kacang tanah untuk pangan dan bahan baku industri pangan sesuai jumlah dan kualitas yang dipersyaratkan, masih ditopang oleh impor. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk peningkatan produksi.

Usahatani kacang tanah masih dihadapkan pada tantangan yaitu terbatasnya sumber genetik unggul di tingkat petani, semakin menyempitnya lahan-lahan produktif dan perubahan iklim akibat pemanasan global. Penyempitan lahan produktif atau semakin berkurangnya luas lahan untuk tanaman pangan terjadi karena : 1) Fragmentasi lahan sehingga rata-rata kepemilikan lahan untuk usahatani semakin sempit, 2) Alih fungsi lahan semakin tidak terkendali akibat persaingan pemanfaatan lahan untuk berbagai penggunaan, 3) Degradasi, dan 4) Pencemaran lahan. Dalam hal berkurangnya lahan-lahan produktif, maka perlu digiatkan budi daya di lahan-lahan yang selama ini komoditas tersebut belum ditanam dengan intensif, terutama pada lahan suboptimal, misal di lahan kering masam, lahan kering iklim kering, dan lahan salin. Lahan suboptimal merupakan lahan pertanian masa depan.

Kacang tanah merupakan salah satu sumber pendapatan tunai bagi petani. Komoditas ini dapat digunakan sebagai bahan baku aneka industri. Khusus di lahan kering iklim kering (LKIK) bertipe iklim D3 dan E, usahatani kacang tanah secara agronomis dan ekonomis layak dikembangkan meski secara biofisik menghadapi kendala antara lain kekurangan air pada fase generatif tanaman, investasi gulma dan penyakit. Teknologi budi daya kacang tanah di LKIK tipe iklim D3 (3-4 bulan basah/tahun) yang ditanam pada akhir musim hujan (Januari-Maret), telah tersedia.

Saat ini kacang tanah telah dibudidayakan di LKIK di wilayah Indonesia bagian timur. Teknologi eksisting sangat sederhana sehingga dipandang perlu untuk perbaikan teknologi yang ada terutama teknologi pengelolaan tanaman, kesuburan tanah serta pengendalian organisme pangganggu tanaman demi terakitnya teknologi budi daya spesifik lokasi sehingga berpeluang meningkatkan produktivitas untuk dicapainya produksi biomas yang tinggi. Upaya peningkatan produktivitas kacang tanah dilaksanakan dengan menyediakan paket teknologi produksi melalui pendekatan penelitian pada lahan petani di daerah sentra produksi.

Teknologi kunci budi daya kacang tanah di lahan kering iklim kering adalah

  1. Penggunaan varietas toleran kekeringan.
  2. Tanam tepat waktu.
  3. Memanfaatkan ketersediaan air tanah.
  4. Pemupukan yang berimbang untuk menjaga kesuburan tanah.

PERMASALAHAN BUDI DAYA KACANG TANAH LAHAN KERING IKLIM KERING SUMBA TIMUR

Budi daya kacang tanah memerlukan tanah yang relatif subur untuk mendapatkan hasil yang optimal. Kacang tanah merupakan tanaman yang kaya energi yang terdiri atas mineral, lemak, protein dan vitamin, dan oleh karena itu tanaman ini menyerap unsur hara dalam jumlah yang cukup besar. Jumlah unsur yang diserap beragam tergantung pertumbuhan dan tingkat hasil. Semakin baik pertumbuhan dan semakin tinggi hasil maka unsur hara yang diserap semakin tinggi.

Sifat fisika dan kimiawi tanah di lahan kering iklim kering NTT sangat mendukung untuk pertumbuhan kacang tanah. Pada lahan ini kesuburan tanah sangat dipengaruhi oleh ketinggian tempat.

Kacang tanah memerlukan jenis tanah dengan tekstur lempung berpasir, liat berpasir atau lempung liat berpasir dengan bobot isi rendah. Bobot isi yang rendah mencerminkan tanah yang gembur diperlukan untuk mempermudah ginofor masuk ke dalam tanah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bobot isi relatif rendah yaitu kurang dari 1 gr/cm3. Angka ini menunjukkan bahwa kacang tanah dapat tumbuh dengan baik.

Kesuburan kimiawi tanah pada ketinggian 0-200 m dpl, menunjukkan bahwa pH, N total dan Fe dalam tanah yang menjadi kendala pertumbuhan kacang tanah. Tanaman kacang tanah dapat tumbuh baik pada kisaran pH tanah antara 6,0 – 6,5. Namun kacang tanah dapat menghasilkan polong dengan baik pada pH antara 4,5 – 7,0. Pada ketinggian 0-200 m dpl, pH 7,5 adalah ada pH yang tinggi mempengaruhi ketersediaan hara lainnya. Pada lokasi ini berhubungan dengan ketersediaan Fe dalam tanah yang rendah yaitu 3,52 ppm, yang menyebabkan tanaman kacang tanah klorosis.

Pada ketinggian 200-700 m dpl, pH dan ketersediaan hara semua berada dalam keadaan yang optimum untuk pertumbuhan kacang tanah. Budi daya kacang tanah di Sumba Timur pada ketinggian ini sangat dianjurkan karena ketersediaan hara dalam tanah sesuai dengan kebutuhan kacang tanah sehingga tidak memerlukan masukan pupuk dan bahan organik yang tinggi.

Pada ketinggian lebih dari 700 m dpl, permasalahan untuk budi daya kacang tanah adalah rendahnya N total, ketersediaan P dan C:N rasio. Batas kritis N adalah 0,1%, P (Bray 1) sebesar 7 ppm P2O5 dan C:N rasio 20. Kekahatan unsur N menyebabkan pembentukan klorofil terhambat sehingga daun klorosis. Gejala kekahatan N sering terjadi pada lahan yang berdrainase buruk karena bakteri penambat N tidak berkembang dan penyerapan N terhambat. Pada ketinggian lebih dari 700 m dpl mempunyai curah hujan yang tinggi dengan tekstur tanah agak berlempung, yang menyebabkan drainase tanah buruk. Hal ini yang menyebabkan kandungan N tanah rendah. Di samping itu, curah hujan yang tinggi juga menyebabkan mineralisasi bahan organik menurun sehingga N dalam tanah juga rendah. Hal ini juga yang menyebabkan C:N rasio pada ketinggian 700 m dpl menjadi tinggi. Kahat P umumnya terjadi pada tanah masam atau alkalis, pada lahan kering iklim kering NTT, kekahatan P disebabkan oleh tanah yang alkalis dan mineralisasi bahan organik yang terhambat.

REKOMENDASI TEKNOLOGI BUDI DAYA

Uraian Pelaksanaan
Sistem Tanam Monokultur
Varietas Kancil/ Hypoma 1/ Hypoma 3
Penyiapan Lahan Olah sempurna, dibajak dan diratakan (dengan traktor atau tenaga ternak).
Perlakuan benih (daya tumbuh > 80%) Regent untuk mengendalikan serangan lalat kacang (dosis sesuai dengan petunjuk dalam kemasannya). Perlakuan benih juga menghindari benih dimakan oleh binatang.
Jarak Tanam 40 cm x 15 cm, satu biji/lubang.
Waktu dan Cara Tanam Kacang tanah ditanam pada saat awal musim hujan, tanah sudah lembab pada kedalaman 10-15 cm. Tanam secara tugal (kedalaman lubang tugal 2-3 cm, ditanam 1 benih per lubang tugal, setelah tanam lubang tugal segera ditutup tanah untuk menghindari benih kacang tanah kering.
Pengendalian Gulma Apabila sebelum tanah diolah gulma banyak, disemprot dengan herbisida kontak-sistemik. Penyiangan I pada umur 15-20 hst, dengan herbisida (nozle pakai sungkup agar herbisida tidak mengenai tanaman) atau manual (cangkul, parang, tangan). Jika diperlukan, penyiangan II pada umur 30-35 hst (manual).
Pemupukan 50 kg Ponska/ha + 25 kg SP-36/ha, bersamaan tanam (Dosis rendah karena tanahnya subur, berfungsi untuk menjaga kesuburan tanah saja)
Pengairan Hujan
Pengendaian hama & Penyakit Berdasarkan pemantauan. Pengendalian dengan insekstisida atau pestisida sesuai dengan hama dan penyakit yang menyerang, dosis sesuai yang tertera pada kemasan.
Panen Panen pada saat kemasakan biji yang tepat, yang ditandai dengan polong yang keras, kelihatan berserat dan bagian dalam berwarna coklat, biji telah terisi penuh. Umumnya dipanen berumur 90-105 hari (tergantung varietas).

Pada lahan kering beriklim kering iklim kering di Sumba Timur, dengan penerapan teknologi budidaya tersebut, pertanaman tumbuh cukup baik, dan diperoleh hasil polong panen 3,4 t/ha atau 2,4 t/ha polong kering. Selain polong , juga diperoleh hasil panen dalam bentuk biomas sebanyak 5,5 – 13,0 t/ha, yang dapat digunakan sebagai pakan ternak, diantaranya kuda, sapi, dan kambing yang banyak dipelihara oleh petani/masyarakat wilayah lahan kering iklim kering Sumba Timur.

 

Andy Wijanarko