Info Teknologi » Teknologi Budidaya Ubi Kayu di Lahan Kering Ultisol Mampu Meningkatkan Hasil 40-75%

1-aaainov_marwoto-3

Tanaman ubikayu banyak diusahakan di lahan kering dengan berbagai jenis tanah terutama Ultisol, Alfisol, dan Inceptisol. Provinsi Lampung merupakan sentral produksi ubi kayu utama di Indonesia. Di Provinsi Lampung ubi kayu sebagian besar ditanam di lahan Ultisol bersifat masam, Al-dd tinggi dan kandungan hara relatif miskin. Varietas yang umum ditanam petani adalah varietas unggul UJ-5. Pada tahun 2011 produksi ubi kayu di Provinsi Lampung mencapai 9,017 juta ton, dihasilkan dari luas panen lebih kurang 360 ribu hektar, dan rata-rata hasil 24,9 t/ha. Hasil ini lebih tinggi dibanding rata-rata hasil nasional yang baru mencapai 19,8 t/ha, namun masih lebih rendah dibandingkan potensi hasil beberapa varietas ubi kayu yang dapat mencapai 40—50 t/ha. Hal tersebut berarti bahwa peluang meningkatkan produktivitas ubi kayu dengan menggunakan varietas unggul disertai teknologi maju masih sangat terbuka.

Paket teknologi budidaya ubi kayu di lahan kering masam mencakup: 1) Menggunakan varietas unggul; UJ-5, Malang-4, Malang-6 (di Natar), Litbang UK-2, 2) Bibit yang digunakan sehat, segar dan bebas infestasi hama dan pathogen, 3) Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna, dengan kedalaman olah >25 cm, 4) Penanaman dilakukan pada puncak guludan dengan jarak antarguludan 100 cm, dan jarak tanam dalam guludan 80 cm (populasi 12.500 tanaman/ha), 5) Pengendalian gulma I dilakukan lebih kurang 1 minggu sebelum pengolahan tanah menggunakan herbisida pra-tanam dosis 2 l/ha, dan pengendalian gulma II pada saat tanaman berumur 2 bulan secara manual (dikoret), 6) Pemupukan menggunakan 200 kg Urea+200 kg SP36+ 150 kg KCl/ha + 5 ton pupuk kandang + Dolomit 500 kg/ha, 7) Pupuk kandang dan Dolomit diberikan pada saat pengolahan tanah dengan cara digarit pada guludan.

Gambar 1. Keragaan tanaman dan hasil umbi ubikayu varietas Malang-4 di Kota Bumi, Lampung Utara.

Pemupukan I berupa separo dosis Urea+ 200 kg SP-36+ 200 kg KCl/ha diberikan pada umur 7-10 hari setelah tanam. Pemupukan II berupa separo dosis Urea (100 kg/ha) diberikan pada saat tanaman berumur 3 bulan, 8) Pembubunan dan perbaikan guludan dilakukan pada umur 3 bulan (bersamaan dengan pemupukan II), 9) Pengendalian hama tungau dengan insektisida Kelthane pada umur 5 bulan, 10) Panen dilakukan pada umur 10-12 bulan.

Gambar 2. Keragaan tanaman dan hasil umbi ubikayu varietas dan OMM 9908-4 (yang telah dilepas sebagai varietas Litbang UK-2) di Kota Bumi, Lampung Utara.

Penerapan teknologi budidaya ubi kayu di lahan kering masam tersebut diatas mampu meningkatkan hasil ubi kayu 40-75%. Paket teknologi ini telah diujicoba di Natar (Lampung Selatan), Sulusuban (Lampung Tengah), Pekalongan (Lampung Timur), dan Kota Bumi (Lampung Utara) pada tahun 2009 -2012. Hasil umbi yang diperoleh berkisar antara 46-64 t/ha (84-156% lebih tinggi dibanding produktivitas Provinsi Lampung).

Paket teknologi tersebut berpeluang untuk dikembangkan di lahan kering Ultisol di provinsi lain, yaitu di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.