Info Teknologi » Teknologi Pengembangan Tanaman Kedelai di Kawasan Hutan Kayu Putih Melaleuca leucadendra Sebagai Sumber Benih Kedelai

1-akayupth_madiun-5

Hutan kayu putih yang tersebar luas di beberapa wilayah, potensial untuk pengembangan tanaman kedelai dengan model tumpang sari. Sistem tumpangsari tanaman kayu putih+ kedelai memiliki kelebihan: (a) pemanfaatan lahan lebih optimal yang ditunjukkan oleh nisbah kesetaraan lahan (NKT) atau Land Equivalent Ratio (LER) yang meningkat dari 1,0 menjadi 1,3-1,7, (b) Produk panen beragam, (c) mengurangi risiko kegagalan panen, akibat penurunan harga atau sebab lain seperti serangan hama/penyakit dan gangguan iklim, (d) lebih cepat memperoleh penghasilan (kedelai panen umur 85-90 hari), (e) memperoleh tambahan hasil dari tanaman yang ditanam pada musim kedua, (f) memperbaiki kesuburan tanah karena tambahan N dari rhzobium dan bahan organik dari serasah tanaman kacang-kacangan (g) mencegah erosi, dan (h) menyediakan pakan ternak (Balitkabi 2007; Munip dan Ispandi 2006; Wargiono 2005). Kedelai dapat ditanam pada lorong di antara tanaman kayu putih secara tumpangsari. Sistem tanam ini, selain memberikan keuntungan berupa peningkatan produktivitas lahan, juga dapat memberikan keuntungan finansial bagi petani pesangem. Kawasan hutan kayu putih sebaiknya hanya ditanami tanaman pangan (jagung dan kacang-kacangan).                     Gambar  1.  Kedelai tumbuh subur di antara lorong tanaman kayu putih di Ponorogo, KPH Madiun
Pengembangan kedelai di hutan kayu putih mempunyai banyak keuntungannya antara lain lahan kayu putih dapat dipakai untuk pertanaman kedelai secara permanen, artinya dapat ditanam sepanjang tahun. Sedang hutan kayu jati hanya dapat ditanami hanya sampai umur 4 tahun saja karena kanopi pohon jati sudah mulai menutup dan berpengaruh terhadap pertumbuhan kedelai. Di samping itu pengembangan kedelai di kawasan hutan kayu putih berpotensi untuk penyediaan benih di lahan sawah dengan sistem Jalur Benih Antar Lapang dan Musim (JABALSIM). Teknik produksi kedelai di lahan hutan kayu putih dapat dilakukan sebagaimana memproduksi kedelai di lahan kering, yaitu:

  1. Lahan disiapkan dengan pengolahan tanah sampai gembur menjelang musim hujan, dengan dibajak 1–2 kali kemudian digaru 1 kali dan diratakan.
  2. Pembuatan saluran drainase dengan jarak antar saluran 3–5 m dengan ukuran lebar sekitar 30 cm dan kedalaman sekitar 25 cm. Interval antarsaluran drainase dapat lebih rapat sesuai dengan jenis tanahnya dan kemiringan lahan. Tanah bertekstur halus (tanah berat) dan lahan yang bertopografi datar, jarak antarsaluran perlu lebih rapat menjadi 2-3 m.
  3. Varietas yang dianjurkan untuk pertanaman kedelai MH I (Oktober–Januari) dan MH II (Februari–Mei) dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu: a) varietas berbiji besar: Anjasmoro, Argomulyo, Grobogan, b) varietas berbiji sedang: Wilis, Slamet, Tanggamus, Kaba, Sinabung, Burangrang, c) varietas berbiji kecil: gepak kuning dan gepak ijo.
  4. Penggunaan benih berkualitas, bernas memiliki daya tumbuh >85%, murni, sehat, dan bersih, dengan total kebutuhan benih antara 40–60 kg/ha, tergantung pada ukuran biji; makin besar ukuran biji makin banyak benih yang dibutuhkan.
  5. Perlakuan benih dengan carbosulfan (10 g Marshal 25 ST/kg benih) atau fipronil (10 ml Regent/kg benih) untuk mengendalikan lalat bibit dan insekta lain.
  6. Perlakuan benih dengan pupuk hayati sumber rhizobium bagi lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai, 20 g sumber rhizobium/kg benih.
  7. Populasi tanaman 350.000 – 400.000 per hektar, pengaturan jarak tanam berturu-turut 40 x 15 cm, 40 x 10 cm, dua tanaman/lubang. Pada tanah yang subur dan hujan/air cukup jarak tanam 40 x 15 cm, sedang pada tanah yang kurang subur dan hujan/air terbatas, jarak tanam 40 x 10 cm.
  8. Jenis dan takaran pupuk dapat berbeda tergantung pada kondisi atau tingkat kesuburan tanah berdasar analisis tanah. Jika tersedia pupuk organik atau pupuk kandang, dianjurkan untuk diberikan dengan takaran 2 t/ha. Umumnya pada tanah dengan kondisi cukup normal, pupuk NPK diberikan dengan takaran 75 kg Urea, 100 kg kg SP36, dan 100 kg KCl/ha.
  9. Gulma dikendalikan berdasarkan pemantauan baik secara mekanis-konvensional atau manual (penyiangan dengan cangkul atau sistem cabut), secara mekanisasi, maupun secara kimia dengan menggunakan herbisida pra maupun pasca tumbuh; penyemprotan herbisida pra tumbuh dilakukan seminggu sebelum tanam sedang penyemprotan herbisida pasca tumbuh perlu hati-hati dengan menggunakan tudung nozzle supaya tidak meracuni daun tanaman kedelai.
  10. Pengendalian hama dan penyakit berdasarkan petunjuk teknis PHT (pengendalian hama dan penyakit terpadu).
  11. Tanaman siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan, coklat-kehitaman (tergantung varietas) dilakukan secara konvensional (disabit atau dicabut). Pembijian kedelai dapat dilakukan secara manual (sistem geblok, pemukul kayu) maupun secara mekanis yakni dengan mesin perontok.

Kayu putih ditanam dengan jarak 3-5 m x 1-2 m, dengan demikian tersedia lahan dengan lebar 3–5 m pada lahan hutan kayu putih, di antara barisan kayu putih dapat ditanami tanaman pangan. Pada lorong di antara tanaman kayu putih yang ditanami kedelai akan memberikan hasil kedelai sepanjang tahun karena daun kayu putih selalu di pangkas. Hasil penanaman kedelai di hutan kayu putih pada bulan Februari–April (akhir musim hujan), sangat sesuai untuk produksi benih kedelai di lahan sawah pada bulan Mei-Juli (Musim Kemarau I). Hasil kedelai MK I dapat dipakai sebagai sumber benih kedelai Musim Kemarau II pada Agustus – Oktober. Kondisi ini sangat mendukung melaksanakan sistem perbenihan JABALSIM ( Gambar 2.)Gambar 2.  Jalur benih antarlapang, antarmusim menjamin ketersediaan benih kedelai sepanjang tahun
Untuk mewujudkan impian kedelai hutan sebagai sumber benih diperlukan dukungan kebijakan berupa pemberian insentif kepada petani berupa akses, modal, sarana produksi (benih, pupuk, pestisida), peningkatan pengetahuan tentang inovasi teknologi terkini (Pelatihan, Penyuluhan). Kebijakan penting lainnya adalah penetapan harga jual yang menarik, pembatasan impor atau diberlakukan tarif impor, miningkatkan peran BUMN untuk menampung hasil kedelai dengan harga yang layak pada saat panen raya, dukungan pengambil kebijakan di daerah untu
k mendorong pengembangan kedelai dan menampung hasil panen kedelai. Perlu sinkronisasi program dengan GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi), di mana pelaku atau pengelola GP3K adalah HTI, Perhutani, PT SHS, PT Pertani dan Petrokimia dan institusi terkait lainnya dengan Pola Kemitraan (Gambar 3).Gambar 3 . Pola kemitraan pengembangan benih sumber kedelai di kawasan Hutan kayu putihGambar 4.  Panen kedelai di kawasan hutan kayu putih di Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo Jawa timur

a) Varietas berbiji besar: Anjasmoro, Argomulyo, Grobogan, dan Rajabasa,

b) Varietas berbiji sedang : Wilis, Slamet, Tanggamus, Kaba, Sinabung, dan Burangrang,

c) Varietas berbiji kecil : Gepak Kuning dan Gepak Ijo.