Info Teknologi » Toleransi Kacang Tanah, Kacang Hijau dan Kedelai terhadap Salinitas

salinitas1

Salinitas adalah tingkat kegaraman yang mengindikasikan jumlah garam terlarut dalam air.

Gambar 1. Gejala pengaruh salinitas pada kacang tanahSalinitas merupakan salah satu cekaman abiotik yang berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan hasil pada hampir semua tanaman (Tabel 1). Salinitas adalah tingkat kegaraman yang mengindikasikan jumlah garam terlarut dalam air. Ion yang dapat menyebabkan salinitas adalah ion-ion Na+, K+, Ca+2, Mg+2, dan Cl. Satuan yang digunakan beragam seperti ppt (part per thousand), PSU (practical salinity unit = g/kg). Konduktivitas listrik (DHL atau EC) umum digunakan untuk menunjukkan tingkat salinitas dan dinyatakan dengan satuan dS/m (desi siemens/m; 1 dS/m = 1 mmhos/cm = 640 ppm atau mg/kg = 1000 µS/cm).

Pemetaan lahan salin di Indonesia belum banyak dilakukan, tetapi sudah banyak diidentifikasi lahan-lahan pertanian yang salin. Salinisasi telah menjadi salah satu isu nasional penyebab degradasi lahan pertanian di Indonesia. Salinisasi pada lahan-lahan pertanian di Indonesia terutama disebabkan oleh masuknya air laut akibat bencana alam, intrusi air laut pada lahan dekat pantai, akibat pengaruh pasang-surut air laut, pencemaran limbah industri, serta penggunaan pupuk dan irigasi air tanah yang semakin intensif. Salinitas tanah pada lahan pertanian harus diatasi agar diperoleh pertumbuhan dan hasil tanaman yang baik. Mengatasi tanah salin dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: Pencucian tanah dengan air yang bebas garam, penambahan bahan amelioran anorganik maupun organik, pengendalian proses penguapan/evapotranspirasi, penggunaan tanaman yang toleran terhadap garam. Cara yang paling efektif dan efisien adalah penggunaan tanaman toleran, akan tetapi jika kandungan garam tinggi maka harus dikombinasi dengan cara yang lainnya. Pemanfaatan lahan salin dengan tanaman yang sesuai diperlukan informasi toleransi tanaman terhadap tingkat salinitas. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) pada tahun 2012 hingga 2013 melakukan pengujian toleransi beberapa genotipe kacang tanah, kacang hijau, dan kedelai. Pengujian dilakukan di rumah kaca pada media tanah yang diatur tingkat salinitasnya. Ragam tingkat salinitas diperoleh dengan cara menyiram tanaman dari umur 14 hari hingga fase polong isi penuh menggunakan air laut yang diencerkan. Pengukuran DHL atau EC menggunakan portable EC meter WP-81 merk TPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman toleransi terhadap salinitas antar komoditas dan antar genotipe dalam komoditas. Kacang tanah menunjukkan toleransi yang lebih rendah dibandingkan kacang hijau dan kedelai. Pada salinitas 2-5 dS/m, hasil polong kacang tanah turun 59-93% tergantung genotipe (Tabel 2), hasil biji kacang hijau turun 15-80% tergantung genotipe (Tabel 3), dan hasil biji kedelai turun 26-93% tergantung genotipe (Tabel 4). Kerusakan tanaman makin parah dengan makin meningkatnya salinitas (Gambar 1, 2, 3, dan 4). Penurunan hasil >50% pada umumnya dianggap tidak layak secara ekonomi, sehingga penurunan hasil 50% digunakan sebagai batas tertinggi untuk penilaian toleransi terhadap cekaman. Berdasarkan penelitian ini, maka salinitas 2 dS/m tidak bisa diabaikan pengaruhnya (seperti klasifikasi pada Tabel 1) untuk komoditas kacang tanah, kacang hijau, dan kedelai karena telah menyebabkan penurunan hasil.

Hasil penelitian ini memang masih sangat awal dan perlu pengujian lebih lanjut di lapang, akan tetapi setidaknya informasi tersebut berguna untuk memilih alternatif komoditas dan varietas yang akan diusahakan pada lahan salin.

Gambar 3. Pengaruh salinitas pada tanaman kacang hijau. L0=kontrol dan L2=2,87-5,68 dS/m

Gambar 4. Gejala pengaruh salinitas pada tanaman kedelai

Makalah disiapkan oleh Abdullah Taufiq, diedit oleh Eriyanto Yusnawan