Info Teknologi » Varietas Kedelai Detap 1 menjadi Daya Ungkit Pendapatan Petani di Masa Pandemi

Pertumbuhan VUB kedelai Detap 1 dan hasil panen di Bangsal, Mojokerto

Pertumbuhan VUB kedelai Detap 1 dan hasil panen di Bangsal, Mojokerto

Kebutuhan bahan baku kedelai untuk makanan olahan tempe dan tahu pada saat pandemi menjadi semakin tinggi. Kedelai impor masih mendominasi di pasar meskipun ketersediaan semakin terbatas, sehingga harganya masih tinggi di bulan Agustus 2021 pada kisaran Rp 9.000-10.000/kg. Di sisi lain, tidak ada panenan petani di lapang, sehingga kenaikan harga kedelai tidak berdampak terhadap pendapatan petani kedelai lokal (domestik). Selain itu, produktivitas kedelai nasional masih rendah (1,5 t/ha). Penyebabnya klise, karena lambatnya adopsi inovasi dalam penggunaan varietas unggul baru (VUB) berpotensi tinggi. Identifikasi di lapangan menunjukkan permasalahan utama setiap tahun adalah berkaitan dengan benih bermutu, contohnya petani sulit memperoleh benih kedelai bermutu, sulit mengakses stok benih bersertifikat di penangkar, akses untuk mendapatkan benih bersertifikat relatif jauh, dan benih bantuan memiliki kualitas yang kurang baik. Kondisi ini perlu ada solusi dalam mendukung penggunaan benih kedelai bermutu serta kemudahan pembelian benih kedelai unggul/bermutu oleh petani.

Balitkabi melakukan pengamatan terkait dampak pandemi dengan melakukan penelitian yang tertuang dalam kegiatan penelitian wadah Prioritas Riset Nasional. Kegiatan ini bertujuan utama untuk percepatan adopsi inovasi teknologi (inotek) oleh petani dengan bidikan peningkatan produktivitas kedelai berbasis peningkatan ekonomi pedesaan. Lokasi yang dibidik adalah sentra kedelai di Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Selain sentra kedelai, Kabupaten Mojokerto juga menjadi sentra industri kecil yang banyak terdampak dengan adanya pandemi Covid-19.

Tabel 1. Karakteristik dan jumlah petani kedelai (%) di Mojokerto, Jawa Timur
Kisaran usia Tingkat Pendidikan Jumlah Anggota Keluarga

(orang)

Pengalaman usaha tani kedelai

(tahun)

40-50 =24% SD =41 % 1-2=35% <18 =53%
51-60 =52% SMP=24% 3-4=38% 18-30=32%
61-75 =24% SMA=35% 5-6=27% >30=15%

Usia produktif petani mewarnai penduduk Kabupaten Mojokerto, diikuti tingkat pendidikan yang relatif rendah. Meskipun demikian, cenderung kooperatif dalam menerima inotek baru. Petani dengan pengalaman usaha tani kedelai <18 tahun (53%) lebih rasional dalam melakukan usaha taninya, yaitu jika tingkat harga kedelai rendah, maka petani tersebut akan berganti usaha tani pada komoditas lain yang lebih menguntungkan.

Sikap dan perilaku petani terkait dengan dinamika usaha tani yang dijalankan dan membawa kemanfaatan kepada diri petani melalui beberapa tahapan, yaitu kesadaran, minat, evaluasi, percobaan, dan adopsi. Dengan mengadopsi inovasi sebagai pilihan terakhir, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan petani, sehingga berdampak kepada kualitas dan kuantitas hasil, yang pada gilirannya meningkatkan standar hidup mereka. Apabila disintesakan, faktor-faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi adopsi inotek budidaya kedelai pada bagan sebagai berikut:

Gambar 1. Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan petani kedelai.

Gambar 1. Faktor-faktor sosial ekonomi yang berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan petani kedelai.

Kelayakan dan Peluang Usaha Tani Kedelai

Kedelai VUB Detap 1 dicobakan pada lahan di Kabupaten Mojokerto dengan harapan menjawab turunnya pendapatan petani. Varietas ini memiliki keunggulan adaptif dan produktivitas tinggi, terutama pada wilayah-wilayah sentra kedelai. Pelepasan VUB Detap 1 (Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 340/Kpts/TP.030/5/2017) memiliki sifat unggul, antara lain: 1) Potensi hasil 3,58 ton/ha; 2) Rata-rata hasil ± 2,70 ton/ha; 3) Ukuran biji besar dan bulat; 4) Umur berbunga ± 35 hari; 5) Umur genjah (± 78 hari); 6) Tinggi tanaman ± 68,70 cm; 7) Percabangan 3-6 cabang/tanaman; 8) Tahan pecah polong; 9) Kerebahan agak tahan; 10) Warna kulit biji kuning mengkilat.

Dengan luas areal garapan petani yang relatif sempit antara 0,14 – 0,33 ha, menuntut perlakuan yang intensif terhadap lahan yang dikuasai untuk penanaman kedelai. Tanaman kedelai mempunyai porsi kemanfaaatan lahan di musim terakhir. Pola tanam setahun di Kabupaten Mojokerto, yaitu 1) Padi-padi-kedelai/jagung, di lahan sawah irigasi; dan 2) Padi-jagung/kedelai-jagung, di lahan tadah hujan.

Manfaat ekonomi yang diterima petani ditunjukkan dengan indikator ekonomi, yaitu B/C rasio. Untuk usaha tani kedelai menggunakan varietas Detap 1 mempunyai nilai B/C ratio signifikan. Dengan demikian, pendapatan atau keuntungan yang diperoleh petani meningkat cukup menjanjikan dibanding dengan yang biasa petani lakukan dengan benih varietas lama (Wilis, Kretek), pada Tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2. Perbandingan hasil keuntungan pada varietas bersertifikat dengan varietas turunan (ha).
 Varietas Produktivitas

(ton/ha)

Keuntungan usaha tani Nilai B/C Ratio Status bahan benih tanam
 Kretek 1,37 1.313.667 1,13 Turunan
Wilis 1,53 2.264.792 1,38 Turunan
Devon 1 2,09  3.151.786 1,35 Turunan
Detap 1 2,49 5.716.383 1,52 Bersertifikat

Ketertarikan Petani terhadap VUB Detap 1

Daya pikat petani pada kedelai terklasifikasi seperti pada Gambar 3, sebagai berikut:

Gambar 3. Daya tarik Detap 1 pengaruhi alih inotek pada usaha tani kedelai

Gambar 3. Daya tarik Detap 1 pengaruhi alih inotek pada usaha tani kedelai

Pada Gambar 3, pilihan petani terhadap kedelai VUB Detap 1 antara lain: 1) Tahan pecah polong, biji besar (23%), 2) Produksi tinggi (20%), 3)Batangnya kokoh, walaupun terkena angin tidak mudah roboh (14%), 4) Percabangan banyak (14%), dan 5) Umur panen pendek/genjah (14%) dari tiga varietas lainnya. Sementara menurut pendapat sebagian petani (4-7%), kriteria jumlah biji polong, warna kulit biji kuning, dan jarak buku dapat diabaikan dalam usaha tani kedelai.

Imam Sutrisno dan Ruly Krisdiana