Info Teknologi ยป Verifikasi Teknologi Rekomendasi Budi Daya Ubi Kayu di Sentra Produksi Kabupaten Pati Jawa Tengah

infotek-21124-verifikasibudidaya-e

Sebagai bahan pangan, tingkat konsumsi ubi kayu dilaporkan sebesar 5,01 kg/kapita/tahun (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2019).

Salah satu kendala dalam pengembangan industri berbasis ubi kayu adalah kurang tersedianya pasokan bahan baku umbi segar yang lumintu dan sesuai untuk kriteria mutu olahan yang dikehendaki.

Untuk itu, diperlukan jenis atau varietas ubi kayu yang berdaya hasil tinggi, termasuk berkadar pati tinggi untuk industri pati dan tepung yang adaptif di berbagai agroekologi, dan teknologi budidaya yang dapat meningkatkan produktivitas ubi kayu, terutama di sentra-sentra produksi.

Kabupaten Pati merupakan salah satu sentra produksi ubi kayu di Jawa Tengah. Pada tahun 2017, luas panen ubi kayu di Pati mencapai 16.219 ha dengan tingkat produksi 701.920 ton dan produktivitas sekitar 43,27 t/ha.

Di daerah ini, umumnya ubi kayu ditanam di lahan kering. Salah satu kecamatan penghasil ubi kayu di Pati adalah Kecamatan Margoyoso. Berdasarkan keterangan petani setempat, produktivitas ubi kayu di Kecamatan Margoyoso sekitar 25-30 t/ha, dan mayoritas varietas yang ditanam adalah UJ 5. Varietas UJ 5 merupakan varietas unggul ubi kayu Balitbangtan yang dilepas pada tahun 2000.

Di Kecamatan Margoyoso juga banyak terdapat industri tapioka yang memerlukan pasokan bahan baku secara terus-menerus sepanjang tahun. Oleh karena itu, diperlukan teknologi yang dapat menunjang bioindustri ubi kayu, mulai dari penerapan teknologi budi daya dan pasca panen yang tepat hingga analisis usahataninya.

Teknologi pasca panen yang ditunjang dengan ketersediaan peralatan prosesing yang memadai juga sangat efektif dalam mengatasi terjadinya kerusakan umbi segar saat panen melimpah. Diperolehnya varietas unggul ubi kayu dan paket teknologi budidaya yang optimal, diharapkan dapat mendukung keberlanjutan penyediaan bahan baku industri pati di Kabupaten Pati sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani setempat.

Gambar 1. Pertanaman ubi kayu dengan teknologi petani (a) dan teknologi Balitkabi (b)

Gambar 1. Pertanaman ubi kayu dengan teknologi petani (a) dan teknologi Balitkabi (b)

Untuk itu, pada tahun 2018 telah dilakukan penelitian teknologi budi daya ubi kayu di lahan petani Desa Sidomukti, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati seluas 9 ha. Teknologi existing digunakan sebagai pembanding, yaitu seluas 50% lahan yang diperlakukan dengan teknologi petani (Gambar 1a) yang biasanya menggunakan varietas UJ 5 dan pemupukan dosis tinggi, yakni 500 kg Urea + 300 kg Phonska/ha dan 20 t/ha pupuk kandang.

Selanjutnya, 50% sisa lahan diperlakukan dengan teknologi rekomendasi dari Balitkabi (Gambar 1b), yakni menggunakan varietas UJ 5 dan pemberian pupuk 135 kg N + 60 kg P2O5 + 30 kg K2O + 10 ton pupuk kandang/ha (setara dengan 225 kg Urea + 200 kg Phonska + 100 kg SP36 + 10 ton pupuk kandang/ha).

Pemupukan diberikan dua kali, yaitu pada umur satu bulan dengan dosis 100 kg Urea + 200 kg Phonska + 100 kg SP 36/ha + pupuk kandang 10 ton/ha. Pemupukan yang kedua dilakukan pada saat tanaman berumur tiga bulan menggunakan 125 kg urea/ha. Panen untuk kedua teknologi budi daya tersebut dilakukan pada umur 10 bulan (Gambar 2).

Gambar 2. Panen ubi kayu dengan ubinan (5 m x 5 m)

Gambar 2. Panen ubi kayu dengan ubinan (5 m x 5 m)

Lokasi penelitian merupakan sawah tadah hujan, dimana pengairan sangat tergantung pada curah hujan. Pada awal pertumbuhan (1-2 bulan), tanaman tumbuh bagus karena curah hujan cukup tinggi. Namun pada umur tiga bulan, tanaman ubi kayu mengalami kekeringan, karena frekuensi hujan yang sangat kecil, bahkan hampir dua bulan tidak turun hujan.

Hal ini mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat dan mulai muncul serangan tungau merah. Tanaman yang terserang tungau merah ditandai dengan daun yang menguning dan banyaknya daun yang gugur. Tingkat serangan tungau merah di enam lahan petani di lokasi tersebut disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3. Tingkat serangan tungau merah pada tanaman ubi kayu yang menggunakan teknologi petani dan teknologi rekomendasi Balitkabi (Desa Sidomukti, Maret 2018)

Gambar 3. Tingkat serangan tungau merah pada tanaman ubi kayu yang menggunakan teknologi petani dan teknologi rekomendasi Balitkabi (Desa Sidomukti, Maret 2018)

Hasil pengamatan menunjukkan tingkat serangan tungau merah cukup tinggi dengan kisaran 13,8 – 50,1% pada perlakuan teknologi petani, dan 3,3 – 49,8% pada teknologi rekomendasi Balitkabi. Pengendalian serangan tungau merah pada teknologi rekomendasi Balitkabi dilakukan dengan penyemprotan Starban dosis 2 cc per liter, sedangkan pada teknologi petani tidak dilakukan penyemprotan. Teknik ini efektif dalam mengurangi serangan tungau merah, terutama di dua lahan petani (Karwito dan Harnoto), sedangkan di lahan petani lainnya tidak signifikan.

Gambar 4. Hasil panen ubi kayu pada perlakuan yang menggunakan teknologi petani dan teknologi rekomendasi Balitkabi (Desa Sidomukti, Maret 2018)

Gambar 4. Hasil panen ubi kayu pada perlakuan yang menggunakan teknologi petani dan teknologi rekomendasi Balitkabi (Desa Sidomukti, Maret 2018)

Hasil verifikasi teknologi budi daya ubi kayu di lahan petani tersebut menunjukkan rata-rata hasil panen umbi segar sebesar 32,39 t/ha untuk teknologi petani (existing), dan 35,16 t/ha untuk teknologi rekomendasi Balitkabi (Gambar 4).

Meskipun perbedaan hasil tersebut relatif kecil, namun teknologi yang direkomendasikan oleh Balitkabi lebih efisien dan hemat biaya, karena dosis pupuk yang digunakan jauh lebih rendah dan mampu menghasilkan umbi segar 3 ton lebih banyak dibandingkan dengan teknologi petani yang dosis pemupukannya tinggi. Oleh karena itu, teknologi ini dapat direkomendasikan untuk budi daya ubi kayu di daerah Pati dan sekitarnya.

Sri Wahyuningsih


Daftar Pustaka