Info Teknologi ยป Vimil 1 dan Vimil 2: Varietas Unggul Kacang Hijau Biji Kecil Umur Genjah

Kacang hijau merupakan komoditas kacang-kacangan terpenting ketiga di Indonesia setelah kedelai dan kacang tanah. Luas panen kacang hijau di Jawa adalah 147.672 ha atau 77% dari total luas panen nasional.

Kacang hijau sebagian besar ditanam di sepanjang pantai utara dan selatan Jawa, sedangkan sisanya sebesar 23% ditanam di luar Jawa. Sebaran sentra produksi kacang hijau adalah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Lampung dengan total kontribusi 96,65% (BPS 2019).

Karakteristik kacang hijau yang berumur genjah (55-65 hari), toleran kekeringan, dan dapat ditanam pada daerah yang kurang subur, menjadikan komoditas tersebut potensial untuk dikembangkan di lahan-lahan sub optimal.

Peran strategis lainnya adalah kadar proteinnya yang memadai dan komplementer dengan beras, sebab protein beras yang miskin lisin dapat diperkaya oleh kacang hijau yang kaya lisin dan asam folat. Dengan potensinya ini, kacang hijau dapat digunakan sebagai pangan sumber protein untuk melengkapi sekaligus memperbaiki nilai gizi makanan dan menaikkan pendapatan petani dan sekaligus mendukung program nasional.

Pertanaman kacang hijau di lahan sawah biasanya dilakukan setelah padi sawah pada musim kemarau. Kacang hijau pada lahan kering biasanya ditanam sesudah padi gogo atau jagung. Kacang hijau ditanam sebagai tanaman ketiga untuk lahan kering beriklim basah dengan pola padi gogo-jagung-kacang hijau, padi gogo-kedelai-kacang hijau, atau jagung-kedelai-kacang hijau.

Posisi dalam komponen pola tanam ini cukup penting, dan oleh karena menempati posisi akhir dari suatu pola tanam, maka sifat umur genjah dan tahan kekeringan adalah utama. Pada daerah-daerah dengan keterbatasan tenaga kerja, maka varietas kacang hijau yang memiliki karakteristik masak serempak menjadi sangat penting.

Karakteristik varietas kacang hijau yang digunakan beragam antar daerah tergantung pemanfaatannya. Produk terbesar hasil olahan kacang hijau di pasar antara lain berupa taoge (kecambah), bubur, makanan bayi, industri minuman, kue, dan bahan campuran lain.

Kacang hijau biji kecil memiliki pangsa pasar tersendiri di tanah air. Untuk industri kecambah biasanya digunakan kacang hijau yang memiliki ukuran biji kecil, karena dengan volume yang sama dapat menghasilkan kecambah lebih banyak, sedangkan untuk industri makanan atau minuman yang memerlukan pengupasan kulit biasanya digunakan kacang hijau yang memiliki ukuran biji besar.

Hingga kini telah dilepas lebih dari 20 varietas unggul kacang hijau dengan berbagai karakteristik (warna biji hijau kusam atau hijau mengkilap, ukuran biji kecil-sedang), hasil rata-rata antara 0,90-1,98 t/ha, berat 100 biji antara 2,5-7,8 g, dan umur panen 51 hingga lebih dari 70 hari. Sebagian besar varietas tersebut memiliki ukuran biji tergolong sedang hingga besar.

Varietas biji kecil yang ada diantaranya Sampeong dan Nuri. Varietas Sampeong merupakan pemutihan varietas lokal NTB yang dilepas tahun 2003 dengan karakteristik memiliki ukuran biji yang kecil, namun umurnya relatif panjang (70-75 hari), dan masak tidak serempak.

Varietas biji kecil lainnya adalah Nuri yang dilepas tahun 1983 yang memiliki umur sedang (58-65 hari). Varietas demikian sesuai untuk industri kecambah, sehingga dapat dikembangkan di setiap daerah yang menggunakan kecambah sebagai sayur.

Pembentukan varietas kacang hijau biji kecil dilakukan dengan memperbaiki varietas yang sudah ada, yakni varietas Sampeong. Perbaikan diarahkan pada umur tanaman, keserempakan panen, dan hasil. Tipe ideal kacang hijau diantaranya adalah umur genjah, masak serempak, dan letak polong di bagian atas.

Pembentukan varietas kacang hijau biji kecil dilakukan melalui kegiatan persilangan pada tahun 2013 yang dilanjutkan dengan proses seleksi pada tahun 2013-2014 terhadap ukuran biji, umur, dan karakteristik polong. Pengujian daya hasil dan uji adaptasi dilakukan hingga tahun 2019 di beberapa lokasi.

Sebagian besar hasil persilangan dengan varietas Sampeong menghasilkan ukuran biji kecil. Dari kegiatan tersebut teridentifikasi beberapa galur harapan, diantaranya GH3 atau varietas Vimil 2 yang merupakan keturunan persilangan tunggal antara induk varietas Sampeong dengan tetua jantan galur MMC 679-3c-Gt-1, dan galur harapan GH 9 atau varietas Vimil 1 yang merupakan keturunan persilangan tunggal antara induk galur MMC 679-3C-Gt-1 dengan tetua jantan varietas Sampeong.

Keragaan varietas Vimil 1

Keragaan varietas Vimil 1

Kacang hijau varietas Sampeong memiliki ukuran biji kecil, warna biji mengkilap, umur dalam, dan keragaan tanaman tinggi. Galur MMC 679-3c-Gt-1-5 merupakan galur kacang hijau dengan karakteristik umur genjah (54 hari), masak serempak, warna biji hijau kusam, dan letak polong di atas tanaman. Varietas Vimil 1 dan Vimil 2 tergolong berbiji kecil dengan bobot 100 biji kurang dari 4 g. Penampilan galur Vimil 1 mirip Vimil 2, tetapi berbeda pada warna biji.

Keragaan varietas Vimil 2

Keragaan varietas Vimil 2

Varietas Vimil 1 memiliki potensi hasil 2,06 t/ha dengan hasil rata-rata 1,79 t/ha, bobot 100 biji 3,63 g, memiliki umur masak 57 hst, warna biji hijau kusam, agak tahan terhadap hama penggerek polong Maruca testulalis, agak tahan terhadap penyakit bercak daun dan embun tepung.

Varietas Vimil 1 dapat dikembangkan di lahan sawah, biasanya dilakukan setelah padi sawah pada musim kemarau di Jawa, Sulawesi, Nusa tenggara, dan Sumatera serta daerah-daerah yang menggunakan taoge sebagai industri makanan dan menyukai kacang hijau dengan warna biji hijau kusam.

Varietas Vimil 2 memiliki potensi hasil 2,20 t/ha dengan hasil rata-rata 1,73 t/ha, bobot 100 biji 3,73 g, memiliki umur masak 57 hst, warna biji hijau mengkilap, agak tahan terhadap hama penggerek polong Maruca testulalis, agak tahan terhadap penyakit bercak daun dan embun tepung.

Karakter Vimil 1 Vimil 2 Sampeong
Hasil rata-rata (t/ha) 1,79 1,73 1,35
Potensi hasil (t/ha) 2,06 2,20 1,63
Bobot 100 biji (g) 3,63 3,73 3,17
Umur berbunga (hst) 35 35 41
Umur masak (hst) 57 57 64
Keserempakan panen (%) 83 86 79
Tinggi tanaman (cm) 55,1 56,4 70,9
Protein (% bk) 25,62 24,41 24,18
Lemak (% bk) 0,62 0,71 0,88
Warna biji Kusam Mengkilap Mengkilap
Tipe tumbuh Determinit Determinit Semi determinit

Varietas Vimil 2 dapat dikembangkan di lahan-lahan sub-optimal, seperti lahan kering di Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Sumatera serta daerah-daerah yang menggunakan taoge sebagai industri makanan dan menyukai kacang hijau dengan warna biji hijau mengkilap.

Trustinah