Info Teknologi » Waspada: Kedelai Anjasmoro Peka terhadap Serangan Kutu Kebul

Kedelai Varietas Anjasmoro kini telah berkembang luas di seluruh Indonesia dan mampu menggeser varietas kedelai Wilis yang pernah berjaya menguasai dan mendominasi kedelai di Indonesia. Berdasarkan data distribusi benih sumber dari UPBS Balitkabi yang terbaru (tahun 2013–2014) menunjukkan bahwa kedelai Anjasmoro yang paling diminati penggguna. Kedelai Anjasmoro diminati konsumen, karena berbiji besar mirip kedelai impor, produksi tinggi, adaptif di berbagai ekosistem, dan pasar menghendaki biji besar. Namun jika kondisi lingkungan pada kondisi panas dan kering, mendorong berkembangnya populasi hama kutu kebul Bemisia tabaci Gennadius. Apabila inokulum virus ada di lingkungan pertanaman kedelai, maka harus waspada terhadap ancaman serangan kutu kebul yang menyebarkan virus pada tanaman kedelai. Daun tanaman kedelai yang terserang kutu kebul menjadi keriting dan apabila serangan parah disertai dengan infeksi virus, daun keriting berwarna hitam dan pertumbuhan tanaman terhambat (Gambar 1). Ekskreta kutu kebul menghasilkan embun madu yang merupakan medium tumbuh cendawan jelaga, sehingga tanaman sering tampak berwarna hitam. Hal ini dapat menyebabkan proses fotosintesa pada tanaman kedelai tidak normal. Kutu kebul selain merusak tanaman secara langsung, juga sebagai serangga vektor virus yang dapat menularkan penyakit Cowpea Mild Mottle Virus (CMMV) pada kedelai dan kacang-kacangan lain. Di Jawa Timur terdapat enam strain virus yang menyerang tanaman kedelai yaitu CPMMV, BICMV, BYMV, SSV, PStV dan SMV, dimana semua virus tersebut ditransmisikan melalui vektor serangga seperti Bemisia tabaci. Infeksi virus pada tanaman kedelai pada umumnya menghasilkan gejala yang serupa yakni klorosis, belang dan mosaik pada daun, daun keriput sehingga sulit dibedakan. Kehilangan hasil akibat serangan hama kutu kebul B. tabaci dapat mencapai 80%, bahkan puso.


Gambar 1. Tanaman kedelai Anjasmoro yang terserang hama kutu kebul B. Tabaci.


Gambar 2. Intensitas serangan kutu kebul B. tabaci pada berbagai varietas unggul kedelai. Enam varietas unggul kedelai yaitu Anjasmoro, Argomulyo, Wilis, Kaba, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo mempunyai tingkat ketahanan yang berbeda terhadap serangan hama kutu kebul. Anjasmoro sangat peka terhadap serangan hama kutu kebul dan diikuti oleh varietas Argomulyo, kedua varietas tersebut mempunyai karakter biji besar daun oval. Varietas Wilis, Kaba, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo termasuk varietas yang toleran terhadap serangan hama kutu kebul, mempunyai karakter biji sedang dan kecil (Gambar 2). Pengendalian hama kutu kebul dengan insektisida yang diaplikasikan pada umur 7 dan 14 hari dengan profenos 500 EC 2 ml/l, umur 21, 28, 35, dan 42 hari dengan Lamdasihalotrin 106 g/l + tiametoksam 141 g/l : 1 ml/l, umur 59, 66 dan 73 hari dengan Diafentiuron 500 g/l : 1 ml/l, tidak mampu menekan kehilangan hasil akibat serangan kutu kebul pada Varietas Anjasmoro. Pada Varietas Argomulyo, Wilis, Kaba, Gepak Kuning, dan Gepak Ijo, aplikasi insektisida mampu mencegah kehilangan hasil kedelai hingga 40–60 % (Gambar 3). Intensitas serangan kutu kebul terhadap tanaman kedelai tergantung pada musim, populasi kutu kebul, dan sumber inokulum penyakit virus yang dibawa kutu kebul. Kondisi musim kemarau, tidak ada hujan dan suhu panas menstimulir meningkatnya populasi kutu kebul, dan apabila di sekitar tanaman kedelai banyak sumber inokulum penyakit virus, maka kutu kebul akan menyerang tanaman kedelai dan menularkan virus yang dibawa. Pada kondisi demikian harus diwaspadai adanya serangan kutu kebul dan hindari penggunaan varietas Anjasmoro. Varietas Anjasmoro disarankan ditanam pada akhir musim hujan di lahan kering, di lahan sawah ditanam pada musim MK I, pada MK II di tanam seawal mungkin sehingga pada saat kondisi iklim yang panas, tanaman sudah masuk fase generatif. Penanaman kedelai pada MK II harus dipastikan lingkungan bersih dari tanaman yang terinfeksi virus.


Gambar 3. Hasil biji kering pada beberapa varietas unggul yang diaplikasi dengan insektisida
dan kontrol (tidak dikendalikan dengan aplikasi insektisida).

Prof. Marwoto