Info Teknologi » Waspadai Serangan Hama Penggerek Pucuk Melanagromyza dolichostigma (de Meijere) pada Tanaman Kedelai

pucuk1

Gejala serangan Kebiasaan merusak M. dolichostigma (Diptera, Agromyzidae) sangat khusus, yaitu larva menggerek pucuk batang kedelai yang berumur 2-8 minggu, sehingga pucuk tanaman menjadi layu dan kering. Penggerek pucuk kebanyakan menyerang pucuk tanaman kedelai pada daun trifoliet pertama sampai dengan keempat dan sebagian kecil pada daun kelima sampai dengan ketujuh. Gejala serangan penggerek pucuk tertinggi berturut-turut pada daun trifoliet pertama, yaitu sebanyak 28 %, pada daun trifoliet kedua 27 %, pada daun trifoliet ketiga 25 %, dan pada daun trifoliet keempat 13 %. Sisanya sebanyak 7 % tersebar pada daun trifoliet kelima, keenam dan ke tujuh (Gambar 1).

Gambar 1. Proporsi pucuk layu dan kering oleh serangan M. dolichostigma berdasarkan letak daun trifoliet dari permukaan tanah. Preferensi penggerek pucuk untuk meletakan telurnya adalah pada tanaman berumur sekitar 2-5 minggu, tetapi tidak menutup kemungkinan bila peletakan telur dapat terjadi sampai tanaman berumur 8 minggu, terutama pada pucuk batang. Semakin tua umur tanaman semakin kurang disukai imago M. dolichostigma untuk meletakkan telur. Berdasarkan fakta tersebut, maka pengendalian lalat pucuk sebaiknya dilakukan pada awal pertumbuhan tanaman, sedang waktu dan frekuensi aplikasi insektisida perlu diteliti lebih lanjut.

Respon tanaman terhadap serangan penggerek pucuk. Serangan penggerek pucuk pada tanaman kedelai mengakibatkan pucuk tanaman mati, dan berdampak terhadap lambatnya terbentuknya bunga. Pada tanaman terserang mati pucuk, jumlah tanaman berbunga baru mencapai 20%, sedangkan pada tanaman sehat telah mencapai 52% (Gambar 2).

Gambar 2. Pengaruh serangan M. dolichostigma terhadap pembungaan pada 35 hari setelah tanam (HST). Respon lain akibat matinya pucuk adalah terbentuknya cabang baru. Tanaman yang mengalami serangan penggerek pucuk, 75 % tumbuh percabangan pada batang utama, sedangkan pada tanaman yang sehat lebih sedikit tumbuh percabangan, sebanyak 66 % (Gambar 3). Tanaman sehat cenderung lebih awal membentuk polong (78 %) dari pada tanaman yang terserang (74 %)(Gambar 4). Berdasarkan data pengamatan tersebut dikatakan bahwa serangan penggerek pucuk memperlambat pembentukan polong (waktu pembentukan polong agak mundur). Selain itu kematian pucuk lebih besar pengaruhnya dalam menghambat pertumbuhan.

Gambar 3. Pengaruh serangan M. dolichostigma terhadap pembentukan cabang dan polong pada 49 HST. Dengan matinya pucuk, tanaman membentuk cabang sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhenti. Tinggi tanaman yang terserang penggerek pucuk cenderung lebih pendek, rata-rata hanya mencapai 27,7 cm, sedangkan pada tanaman sehat tinggi tanaman dapat mencapai 77,6 cm. (Gambar 4). Berkurangnya tinggi tanaman yang terserang penggerek pucuk disebabkan karena ujung tunas atau titik tumbuh tanaman kering dan mati, sehingga pertumbuhan menjadi terhenti, dan sebagai kompensasinya tanaman akan tumbuh ke samping dengan membentuk cabang lebih banyak dari tanaman sehat (Gambar 3). Disamping berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, serangan penggerek pucuk juga berpengaruh terhadap jumlah buku subur. Yang dimaksud dengan buku subur adalah buku pada batang utama tempat polong terbentuk. Jumlah buku subur pada tanaman sehat rata-rata mencapai 8,9 buku/tanaman, sedangkan pada tanaman terserang rata-rata hanya 0,6 buku/tanaman (Gambar 4).

Gambar 4. Pengaruh serangan M. dolichostigma terhadap rata-rata tinggi tanaman dan rata-rata jumlah buku subur. Pengaruh serangan penggerek pucuk juga berpengaruh terhadap jumlah polong, jumlah biji, dan bobot biji. Rerata jumlah polong pada batang utama tanaman sehat 18 polong/tanaman lebih banyak dibandingkan jumlah polong pada batang utama tanaman terserang (‹ 1 polong/tanaman); namun sebaliknya jumlah polong pada cabang tanaman terserang, 7 polong/tanaman lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah polong pada cabang tanaman sehat hanya 4 buah polong/tanaman. Apabila jumlah polong pada batang utama dan cabang dijumlahkan, maka jumlah polong total pada tanaman sehat mencapai 23 polong/tanaman, lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah polong total pada tanaman terserang yang hanya 8 polong/tanaman (Gambar 5). Hal ini berarti bahwa serangan penggerek pucuk M. dolichostigma pada tanaman kedelai khususnya varietas yang rentan seperti Wilis dapat menurunkan produksi polong, karena terbentuknya polong pada cabang yang terjadi akibat matinya pucuk tanaman tidak mampu mengimbangi jumlah polong yang terbentuk pada batang utama tanaman sehat.

Gambar 5. Pengaruh serangan M.dolichostigma terhadap jumlah polong pada batang utama, cabang dan total. Dengan berkurangnya jumlah polong maka jumlah dan bobot biji yang dihasilkan juga berkurang. Gambar 6 menunjukkan bahwa jumlah biji pada batang utama tanaman sehat mencapai 29 biji/tanaman lebih tinggi dibandingkan jumlah biji pada tanaman terserang, hanya 1 biji/tanaman, namun sebaliknya jumlah biji pada cabang tanaman terserang 13 biji/tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah biji pada cabang tanaman sehat hanya 7 biji/tanaman. Apabila jumlah biji pada batang utama dan cabang dijumlahkan, maka jumlah biji total pada tanaman sehat mencapai 37 biji/tanaman, lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah biji total pada tanaman terserang yang hanya 14 biji/tanaman. Hal ini berarti bahwa serangan penggerek pucuk M. dolichostigma pada tanaman kedelai dapat menurunkan jumlah biji, karena terbentuknya biji pada cabang tanaman terserang tidak mampu mengimbangi jumlah biji yang terbentuk pada batang utama tanaman sehat.

Gambar 6. Pengaruh serangan M. dolichostigma terhadap jumlah biji pada batang utama, cabang, dan total.

Dengan berkurangnya jumlah polong dan jumlah biji secara langsung mengurangi hasil biji. Pada Gambar 7 dapat dilihat bahwa hasil biji pada batang utama tanaman sehat mencapai 2,12 g/tanaman lebih tinggi dibandingkan hasil biji pada tanaman terserang, yaitu hanya 0,078 g/tanaman. Sebaliknya hasil biji pada cabang tanaman terserang 0,92 g/tanaman lebih tinggi dibandingkan hasil biji pada tanaman sehat, yaitu hanya 0,55 g /tanaman. Apabila hasil biji pada batang utama dan cabang dijumlahkan, maka hasil biji total pada tanaman sehat mencapai 2,67 g/tanaman, sedangkan hasil biji total pada tanaman terserang hanya 0,99 g/tanaman. Hal ini berarti bahwa serangan penggerek pucuk M. dolichostigma pada tanaman kedelai menurunkan hasil biji secara nyata, karena bobot biji yang dihasilkan pada cabang tanaman terserang tidak bisa mengimbangi perolehan hasil biji pada batang utama tanaman sehat, dari perhitungan, kehilangan hasil pertanaman dapat mencapai 62 %. Berdasarkan fakta ini dapat dikatakan bahwa serangan penggerek pucuk M. dolichostigma pada tanaman kedelai sangat berarti, karena tanaman yang pucuknya mati pada umumnya pendek, terlambat dalam membentuk bunga dan polong, menurunkan jumlah buku subur, jumlah polong, jumlah biji, dan hasil kedelai sampai 62 %, sehingga M. dolichostigma dinyatakan mempunyai status penting sebagai hama pada tanaman kedelai.

Gambar 7. Pengaruh serangan M. dolichostigma terhadap bobot biji pada batang utama, cabang, dan total.

SWI/EY