Liputan Media » Balitkabi Dan BPTP Dorong Kejayaan Pangan Lokal

Bupati-Wakil Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora-Umbu Lili Pekuwali bersama sejumlah pejabat mencicipi berbagai penganan berbahan lokal Sumba Timur yang diolah dan disediakan di lobi lantai dua Kantor Bupati Sumba Timur, Senin (19/8). Foto: Jumal Hauteas/VN

Bupati-Wakil Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora-Umbu Lili Pekuwali bersama sejumlah pejabat mencicipi berbagai penganan berbahan lokal Sumba Timur yang diolah dan disediakan di lobi lantai dua Kantor Bupati Sumba Timur, Senin (19/8). Foto: Jumal Hauteas/VN

Jumal Hauteas
Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Malang dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur (BPTP NTT) mendorong pemerintah daerah dan masyarakat Sumba Timur untuk ikut meningkatkan kembali kejayaan pangan lokal. Karena pangan lokal Sumba Timur seperti kacang ijo, kacang tanah dan juga ubi ungu dan ubi kuning memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi dan bisa menggantikan beras, maupun kebutuhan terigu dalam pengolahan makanan.

Kepala Balitkabi Malang, Dr. Yuliantoro Baliadi, kepada VN usai pemaparan dan diskusi bersama Wakil Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, sejumlah Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat se-Kabupaten Sumba Timur, yang juga dihadiri tim peneliti Balitkabi Malang, Senin (19/8) menjelaskan hasil penelitian yang dilakukan Balitkabi Malang selama lima tahun di Sumba Timur (2014-2019) menunjukkan bahwa alam Sumba Timur, khususnya di Kecamatan Pandawai, Kanatang, dan Hahar cocok untuk pengembangan tanaman kacang tanah dan juga kacang ijo.

Salah satu instruktur dari Balitkabi (berhijab) sedang menjelaskan kepada ibu-ibu anggota KWT maupun ibu-ibu PKK tentang bagaimana mengolah ubi kuning menjadi mie yang bergizi dan bisa menjadi sumber pemenuhan karbohidrat di aula Balitbangda Kabupaten Sumba Timur, Senin (19/8). Foto: Jumal Hauteas/VN

Salah satu instruktur dari Balitkabi (berhijab) sedang menjelaskan kepada ibu-ibu anggota KWT maupun ibu-ibu PKK tentang bagaimana mengolah ubi kuning menjadi mie yang bergizi dan bisa menjadi sumber pemenuhan karbohidrat di aula Balitbangda Kabupaten Sumba Timur, Senin (19/8). Foto: Jumal Hauteas/VN

“Saat ini generasi kita sudah sangat terjebak dalam pemanfaatan terigu sebagai bahan utama pembuatan makanan ringan dan beras sebagai sumber pemenuhan kebutuhan karbohidrat. Jadi penelitian yang dilakukan Balitkabi selama lima tahun di Sumba Timur ini untuk memastikan bahwa kacang-kacangan dan umbi-umbian di Sumba Timur bisa diangkat kembali kejayaannya seperti yang terjadi pada masa-masa lalu,” tegasnya.

Selain memaparkan hasil penelitian pihaknya, menurut Yuliantoro juga dilakukan demo dan pelatihan bagi ibu-ibu dari sejumlah elemen di Sumba Timur bagaimana mengolah bahan-bahan pangan lokal ini menjadi bahan makanan yang lebih menarik, sehingga bisa dinikmati dalam bentuk yang lebih variatif.

“Kita latih ibu-ibu dari KWT (Kelompok Wanita Tani) dan PKK, termasuk dengan perwakilan ibu-ibu dari sejumlah elemen, bagaimana membuat kue donat dengan ubi ungu yang biasanya 100% pakai beras ketan, kita ganti dengan 80% berbahan ubi ungu. Demikian juga kita latih membuat puding dengan ubi ungu, kacang cokelat rendah lemak, hingga mie berbahan ubi, dan cake dari kacang ijo, dan hasilnya luar biasa karena ibu-ibu disini bisa menangkapnya dengan cepat, sehingga bisa dilanjutkan di rumah atau kelompok masing-masing untuk menambah pendapatan keluarga, maupun kebutuhan pangan keluarga,” jelas Erliana Ginting, penelti pasca panen Balitkabi Malang secara terpisah.

Wakil Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali mengucapkan terima kasih kepada Balitkabi Malang dan BPTP NTT yang sudah memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kembali kejayaan pangan lokal Sumba Timur, melalui penelitian yang sudah dilakukan selama lima tahun terakhir. Karena itu, menurutnya hasil penelitian ini menunjukkan Kecamatan Pandawai, Kanatang dan Hahar yang cocok untuk pengembangan kacang tanah dan kacang ijo. Karena itu, para camat dan dinas terkait diharapkan memperhatikan rekomendasi penelitian ini, agar menindaklanjutinya pada saat penyusunan program kegiatan di tahun-tahun mendatang.

“Kita sudah lihat dan dengar bersama, bahwa Pandawai, Kanatang, dan Hahar itu cocok dengan kacang tanah dan kacang ijo. Jadi tahun depan jangan sampai ada usulan program kacang tanah dan kacang ijo di tiga kecamatan ini, kita hapus dan ganti dengan tanaman lain atau bahkan program lain. Karena kita tidak bisa memaksakan di tempat lain lagi, dan hanya bisa meningkatkan produktivitasnya di tiga kecamatan ini,” tandasnya.

Mengenai rencana program tindak lanjut dari hasil penelitian ini, Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora yang ikut memantau proses pelatihan di aula Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Sumba Timur menegaskan, akan menindaklanjutinya dengan pembinaan melalui TP PKK, Dekranasda, Dinas Pertanian dan Pangan, serta Dinas Perdagangan, agar makanan-makanan yang dihasilkan dengan bahan-bahan pangan lokal Sumba Timur ini bisa terus ditingkatkan jumlahnya, sehingga ketergantungan pada beras bisa ditekan dari waktu ke waktu.

Kepala BPTP NTT, Dr. Syamsudin dan Kepala Balitkabi Malang, Dr. Yuliantoro Baliadi mengaku akan terus memberikan dukungan penelitian, maupun intervensi teknologi terbaru bagi pengembangan peningkatan komoditi pangan lokal Sumba Timur kapan saja. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan bisa terus memberikan pendampingan terhadap masyarakat, terutama ibu-ibu KWT, PKK, dan kelompok elemen lainnya, sehingga bisa ditindaklanjuti dan dikembangkan di dalam keluarga, kelompok, dan masyarakat Sumba Timur, NTT, bahkan Indonesia umumnya.(bev/ol)

 

Sumber