Liputan Media ยป [ jatim.sindonews.com ] Syngenta Dorong Peningkatan Kualitas Kedelai Berbasis Komunal

Yayasan Syngenta (SFSA) dan Balitkabi mengadakan pelatihan dan penguatan penangkar benih nasional berbasis komunal. Foto/Ist.

Yayasan Syngenta (SFSA) dan Balitkabi mengadakan pelatihan dan penguatan penangkar benih nasional berbasis komunal. Foto/Ist.

MALANG – Yayasan Syngenta atau Syngenta Foundation for Sustainable Agriculture (SFSA) mendorong peningkatan kualitas benih dan hasil panen kedelai berbasis komunal.

Upaya itu, salah satunya dilakukan dengan menggelar pelatihan dan penguatan penangkar benih kedelai nasional berbasis komunal, yang bekerjasama dengan Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi).

Pelatihan selama dua hari ini, dilaksanakan di dalam ruangan, dan study lapangan dengan melihat langsung tanaman produksi dan fasilitas pasca panen yang dikelola Balitkabi.

Ketua Yayasan Syngenta-SFSA, Teddy H. Tambu mengungkapkan, saat pelatihan hari terakhir, akan ditutup dengan team building yang juga berisi identifikasi analisa SWOT di setiap daerah, serta mencari jalan keluarnya.

“Hasil pelatihan ini, akan didokumentasikan dalam bentuk buku yang berisi analisa dan masukan, di mana nantinya akan diberikan kepada pemerintah dalam hal ini Kementrian Pertanian sebagai bahan masukan terkait kedelai,” ujarnya.

Peserta pelatihan terdiri dari 30 orang, yang merupakan penangkar benih skala kecil dan menengah dari 12 provinsi di Indonesia. Yakni, dari Serdang Bedagai Sumut, Tebo Jambi, Tanah Datar Sumbar, Pandeglang Banten, Kerawang, Subang, Majalengka, dan Bandung Jawa Barat.

Selain itu, juga ada peserta dari Gunung Kidul, Bantul DIY, Jatim, Ende, Kupang NTT, Bima NTB, Banggai Sulteng, Minahasa Tenggara dan Selatan Sulawesi Utara, serta Goa Sulawesi Selatan.

Pelatihan dihadiri oleh Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan dan Direktorat Aneka Kacang dan Umbi Kementrian Pertanian. Acara ini di buka oleh Kepala Balitkabi, Yuliantoro Baliadi.

Teddy mengatakan, selama pelatihan peserta mendapatkan materi mulai dari pemilihan varietas, budidaya, pemahaman dan pengenalan hama-penyakit, serta panen dan pasca panen.

“Peserta juga dilatih teknik penyimpanan, karena tahap ini sangat krusial. Kami juga mengundang BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih) untuk memberikan materi mendapatkan benih kedelai yang bersertifikat,” tuturnya.

Dinamika mengelola usaha perbenihan, juga akan menjadi materi pelatihan, agar para penangkar kecil-menengah mendapatkan motivasi dan pencerahan dalam mengelola usaha benih yang memang cukup menantang.

“Setelah pelatihan ini, para peserta akan melakukan produksi benih kedelai, dengan target total 58 ton benih kedelai bekualitas dan bersertifikat siap tanam tahun ini, benih akan di jual ke petani di daerah masing-masing,” terang Teddy.

Targetnya, kedelai konsumsi dari hasil petani berkisar 3500 ton, dengan target hasil produksi 2 ton per/hektar. Diharapkan roda usaha ini akan mulai berjalan dengan target kualitas benih yang baik, serta manajemen simpan yang tepat.

“Yayasan Syngenta, dan Balitkabi akan tetap membina hubungan kepada penangkar agar pendampingan tidak hanya sebatas pelatihan dan pembekalan, tetapi memastikan tetap memproduksi benih kedelai dan menjadi sumber informasi teknologi di daerah mereka masing-masing,” kata Teddy.

Dalam buku prinsip-prinsip produksi benih kedelai (2015) yang di tulis oleh peneliti Balitkabi disebutkan, sistem perbenihan kedelai secara formal belum berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Akibatnya, hingga saat ini masih belum banyak petani yang menggunakan benih bermutu, yakni diperkirakan baru sekitar 30% saja yang telah menggunakan benih bermutu.

Untuk memenuhi kebutuhan benih kedelai bermutu, dalam upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani perlu dibina usaha penangkaran benih, terutama di sentra produksi kedelai.

“Oleh karena itu sangat perlu dilakukan peningkatan kemampuan penangkar benih lokal untuk dapat memenuhi kebutuhan benih yang berkualitas, memiliki daya saing yang baik, serta dapat mengenalkan varietas kedelai yang unggul hingga dipedesaan,” ungkapnya.

Yayasan Syngenta-SFSA adalah organisasi nirlaba yang berpusat di Swiss, dan fokus pada lingkup pertanian dengan program-program seperti pemberdayaan usaha petani atau Pancer Tani.

Selain itu juga melakukan pengembangan dan pengenalan asuransi pertanian, serta program teknologi benih yang berupaya mengenalkan benih varietas baru dan berkualitas baik dengan harga terjangkau bagi petani. Aktifitas Yayasan Syngenta-SFSA terdapat di Lampung, Jabar, Jatim, NTT dan beberapa daerah lainnya.

(eyt)

 

Sumber