Liputan Media » [ Pilar Pertanian ] Kapuslitbangtan Dr Ir Haris Syahbuddin DEA : Double Track System Untuk Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan

kacang-hijau-2-800x528

Pilar Pertanian – Di Indonesia, kacang hijau (Vigna Radiata) atau mung bean merupakan komoditas kacang yang penting setelah kedelai dan kacang tanah. Kebutuhan setiap tahun selalu meningkat, baik sebagai bahan baku untuk olahan pangan maupun untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman.

Beragam makanan tradisional yang diantaranya sudah menjadi home industry, hingga industri pabrikan skala menengah dan besar, menjadikannya sebagai bahan baku utama dalam pembuatan produknya. Bakpia, bakpau, hingga beragam kue dan biskuit merupakan contoh produk yang tidak asing lagi di masyarakat. Begitu juga dengan aneka produk bubur kacang hijau instan sebagai makanan pendamping ASI, yang dengan menambahkan air panas sudah siap saji untuk bayi dan anak-anak balita. Demikian juga, dengan mudah diperoleh aneka minuman olahan kacang hijau dalam kemasan siap santap telah tersedia di pasaran dalam beragam merk dagang.

Hampir semua orang familier dengan tauge, kecambah kacang hijau yang bisa dikonsumsi segar maupun diolah lebih lanjut. Laksa Bogor, Ketoprak Jakarta, gudangan dan tahuleknya Jawa Tengah, trancam serta pecel Madiun di Jawa Timur, hingga karedok Jawa Barat menggunakan tauge sebagai cirikhas makanan tradisional tersebut. Demikian pula dengan bubur kacang hijau, yang dalam variasinya berkembang dengan penggunaan ketan hitam hingga roti tawar.

Badan Litbang Pertanian melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) menjawab peluang tersebut dengan penelitian untuk merakit varietas unggul baru sesuai preferensi konsumen.

“Kebutuhan pasar merupakan patokan dalam perakitan varietas unggul baru”, demikian disampaikan Dr. Ir. Haris Syahbuddin DEA, Kepala Puslitbangtan yang diberi amanah sebagai nahkoda penelitian dan pengembangan tanaman pangan sejak Februari tahun 2019 ini.

“Meskipun bukan komoditas prioritas, kacang hijau tetap memperoleh porsi yang cukup untuk mendapatkan varietas-varietas baru, baik yang diperuntukan bagi konsumsi publik maupun untuk kepentingan industri yang kemudian kami sebut dengan Double Track System. Double track system tersebut merupakan model pendekatan baru yang diusung Kepala Puslitbangtan dalam perakitan varietas unggul baru (VUB) sebagai terobosan untuk peningkatan kesejahteraan petani melalui hilirisasi teknologi dan inovasi yang berujung ke industri”, lanjut Haris.

Menindak lanjuti system baru tersebut, Balai Penelitian Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puslitbangtan yang membidangi komoditas tersebut menindak lanjuti dengan melakukan penelitian pemuliaan kacang hijau dengan target memperoleh VUB Kacang Hijau dengan karakteristik yang disukai masyarakat dan sesuai keperluan industri.

VUB dengan potensi produksi di atas 3 ton/ha, berumur genjah hingga sedang (umur panen sekitar 2 bulan setelah tanam), polong matang fisiologis serempak sehingga memungkinkan dipanen sekali waktu (tidak berkali-kali sebagaimana varietas lokal), dan memiliki ketahanan terhadap hama thrips dan penyakit embun tepung. (bs)

 

Sumber