Profil ยป Kedelai

Selama kurun waktu 1918-2014 Balitkabi telah melepas varietas kedelai sebanyak 62 varietas. Tahun 2014 Balitkabi melepas tiga Varietas kedelai terbaru, yaitu Demas-1, Dena-1 dan Dena-2. Kedelai Wilis yang dilepas tahun 1983 masih banyak ditanam petani, namun dengan kemunculan Varietas Anjasmoro yang mempunyai adaptasi luas dengan hasil 2,8 t/ha dilepas tahun, maka Wilis bergeser pada urutan ke dua varietas yang paling banyak ditanam petani. Sedangkan urutan ke tiga dan empat masing-masing adalah varietas Mahameru dan Grobogan.

Kedelai Lahan Masam

Pada daerah yang memiliki ciri lahan spesifik seperti lahan kering masam Balitkabi memiliki varietas Tanggamus dan Demas-1 yang adaptif untuk lahan kering masam dengan tingkat hasil 2.6 t/ha dan 2.5 t/ha. Varietas Demas-1 memiliki tingkat ketahanan terhadap penyakit karat daun (Phakopsora pachirhyzi), tahan penggerek polong (Etiella zinckenela).

Kedelai Tahan Naungan

Kedelai tahan naungan telah di lepas oleh BALITKABI, yaitu Dena-1 dan Dena-2 yang memiliki karakter tahan naungan hingga 50% selain tahan terhadap penyakit karat daun, rentan hama pengisap polong dan ulat grayak. Dena-1 dan Dena-2 masing-masing mempunyai tingkat hasil 2.9 t/ha dan 2.8 t/ha mempunyai potensi untuk pengembangan kedelai di bahwa tegakan jati, karet, kelapa dan sawit.

Kedelai Hitam

Balitkabi juga mengoleksi kedelai Hitam, yaitu Cikuray, Merapi, Detam-1, Detam-2. Pada tahun 2013 kembali Balitkabi melepas kedelai Hitamnya yang diberi nama Detam-3 Prida dan Detam-4 Prida yang berpotensi hasil masing-masing 3.2 t/ha dan 2.9 t/ha berumur genjah dan toleran kekeringan, berbiji sedang-besar, dengan kandangan protein cukup tinggi 36-40%.

Kedelai Toleran Cekaman Kekeringan

Pilihan untuk budidaya kedelai pada daerah yang mengalami kekeringan dengan menanam varietas Dering-1. Dering-1 merupakan varietas yang toleran kekeringan selama fase reproduktif, selain memiliki sifat lainnya, yaitu tahan hama penggerek polong (Etiella zinckenela), tahan penyakit karat daun (Phakopsora pachirhyzi) dan rentan ulat grayak (Spodptera litura).

Kedelai Genjah

Kebutuhan pasok kedelai sebagai bahan baku industri tahu dan tempe cukup tinggi. Industri tahu tempe menyukai dan membutuhkan kedelai yang mempunyai rendemen tinggi. Rendemen tinggi dan umur genjah merupakan faktor penting pada budidaya kedelai. Gema, Gepak Kuning dan Gepak Ijo adalah varietas kedelai umur genjah dengan umur panen berkisar antara 73-76 hari, berbiji kecil-sedang, dengan hasil biji kedelai 2.68-3.0 t/ha.
Gepak Kuning dan Gepak Ijo varietas yang memiliki rendemen tahu tinggi.