Uncategorized » Profesor Riset Balitkabi Berpartisipasi pada Sarasehan IV FKPR Kementan

Untuk mendukung Kebijakan Strategis Kementerian Pertanian dalam Mewujudkan Daya Saing Pertanian di Era MEA, Forum Komunikasi Profesor Riset (FKPR) pada tgl 4−6 Februari 2016 mengadakan Sarasehan dengan Tema “Meningkatkan Peran dan Kontribusi Profesor Riset dalam Mendukung Kebijakan Strategis Kementerian Pertanian“. Sarasehan diselenggarakan di Auditorium Sadikin Sumintawikarta Bogor dan dihadiri oleh Kepala Balitbangtan, Profesor Riset Aktif, Profesor Riset Purna Tugas (pensiun), dan sejumlah Peneliti Utama Balitbangtan. Saat ini Balitbangtan memiliki 123 Profesor Riset, terdiri atas 61 orang masih aktif sebagai PNS, 56 orang sudah purna tugas, dan 6 orang meninggal. Kementerian Pertanian sangat mengharapkan pemikiran yang konstruktif dari Balitbangtan terutama dari para profesor riset yang memiliki kapasitas ilmu, emosional, dan pengalaman yang matang dan bisa memberikan panutan bagi generasi muda. Arah penelitian Balitbangtan harus dapat memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang terjadi di lapangan. Kepala Balitbangtan dalam arahannya mengemukakan bahwa: (1) Balitbangtan berada di bawah Instansi Teknis Kementerian Pertanian yang mempunyai obyek, wilayah, dan rentang waktu. Oleh karena itu Profesor Riset dan Seluruh PNS Balitbangtan harus Power Full mendukung keberhasilan Program Kementan, (2) Pelaksanaan penelitian tidak boleh mulai dari nol, disarankan agar dapat menggunakan sumber referensi/pijakan dari dalam dan luar negeri untuk dapat melakukan lompatan dalam menghasilkan inovasi teknologi dan penerapannya. Energi yang dikeluarkan pada program UPSUS di lahan optimal harus sesuai dengan output yang dihasilkan, dan dengan sentuhan inovasi, lahan sub-optimal harus dapat diubah menjadi lahan produktif, (3) Saat ini Balitbangtan telah melakukan kerjasama dengan 18 Perguruan Tinggi, dan Badan Litbang bertindak sebagai imam dalam menghasilkan invensi. Komponen-koponen teknologi yang layak untuk dikembangkan telah banyak dihasilkan, komponen-komponen tersebut harus digabungkan menjadi inovasi teknologi produksi yang utuh, dan didiseminasikan dalam sekala luas minimum 100 ha, (4) Pembiayaan penelitian 70% harus berbasis output, dan 30% bisa berupa penelitian inhouse jangka panjang. Peran Profesor Riset pusat dan daerah harus dioptimalkan dalam hal penajaman penelitian dan monitoring kegiatan yang didampingi oleh Tim Integrator, (5) Disamping aktif melaksanakan forum komunikasi, Profesor Riset diharapkan lebih proaktif melaksanakan Focus Discussion Group (FGD) untuk menghasilkan saran-saran kebijakan yang mendukung keberhasilan program Kementan, serta (6) Kelompok Peneliti Sosial Ekonomi di masing-masing Pusat Penelitian Komoditas akan dihidupkan lagi untuk mengevaluasi kelayakan inovasi teknologi yang dihasilkan (bersifat mikro), sementara itu Pusat Sosial Ekonomi Dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) akan menangani masalah yang bersifat makro dan kebijakan. Beberapa hal yang dibahas dalam Sarasehan adalah: (a) Fokus kegiatan Balitbangtan 2016 dan program strategis 2016–2019, (b) Overview kegiatan FKPR dan rencana kegiatan 2016, (c) Tantangan pembangunan pertanian dalam menghadapi isu-isu global pembangunan pertanian (MEA), dan (d) Sintesis dan problematik proses alih teknologi. Disamping itu juga dibahas sejumlah Policy Brief (PB) dari berbagai bidang ilmu yang disampaikan oleh para Profesor Riset. Pada kesempatan tersebut, lima Profesor Riset dari Balitkabi masing-masing menyampaikan PB dengan judul: (1) Lahan Optimal Semakin Tergerus, Kini Saatnya Memberdayakan Lahan Sub-Optimal untuk Mendukung Kedaulatan Pangan (Prof Dr. Arief Harsono), (2) Apa Tempe Koro Pedang dapat Berkompetisi dengan Tempe Kedelai? (Prof. Dr. Astanto Kasno), (3) Swasembada atau Meningkatkan Produksi Kedelai? (Prof. Dr. Marwoto), (4) Pengembangan Usahatani Integrasi Kedelai-Jagung-Sapi, Suatu Alternatif Upaya Meningkatkan Produksi Kedelai (Prof. Dr. Subandi), dan (5) Pemberdayaan Lahan Pasang Surut untuk Pengembangan Agribisnis dan Agro-Industri Ubikayu (Prof. Dr. Sudaryono).


Arahan Kepala Balitbangtan pada Saresehan IV FKPR Badan Litbang Kementan 4−6 Februari 2016.

AH, SBD, SD, dan MWT